Pemkab Langkat Menerima Hibah Peninggalan Budaya Langkat dari Balai Arkeologi Sumut

Herman - Sabtu, 17 April 2021 11:00 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir042021/_9725_Pemkab-Langkat-Menerima-Hibah-Peninggalan-Budaya-Langkat-dari-Balai-Arkeologi-Sumut.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ist

beritasumut.com - Pemerintah Kabupaten Langkat menerima hibah koleksi museum dari Balai Arkeologi Sumatera Utara, di Kantor Balai Arkeologi Sumatera Utara, Medan, belum lama.Koleksi museum itu dari peninggalan budaya Langkat, berupa alat batu dan manik-manik kuno sebanyak 195 unit. Diserahkan Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara, Dr Ketut Wiradnyana kepada Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Langkat, Hj Nur Elly Heriani Rambe. Dr Ketut berharap, hibah tersebut menambah kuantitas dan kualitas koleksi Museum Daerah Langkat, juga memperkaya potensi pengembangan wisata di Langkat. "Khususnya yang berorientasi sejarah dan budaya," ujarnya.Sementara Hj.Nur Elly mengucapkan terimakasih. Serta menjelaskan peninggalan budaya itu ditemukan di wilayah Langkat.

Baca Juga : Edy Rahmayadi Dukung Pelayaran Muhibah Budaya dan Festival Jalur Rempah 2021

Untuk alat-alat bantu ditemukan dari situs Bukit Kerang yang berada di Desa Sukajadi Kecamatan Hinai, Langkat. Sedangkan manik-manik kuno, berasal dari Pulau Kampai Kecamatan Pangkalan Susu, Langkat. [br] Dari penemuan itu, terang Nur Elly, Bukit Kerang Sukajadi, menjadi bukti adanya sejarah kehidupan manusia purba ras australomelanesid di Langkat. "Yakni dengan hasil pertanggalan radio karbon 12.885 +- 131 tahun BP (tahun sebelum sekarang) dan 7.340 +- 360," paparnya. Sedangkan manik-manik kuno itu, sambung Nur Elly, menunjukkan adanya aktivitas perdagangan dan industri di Pulau Kampai pada akhir abad 10 M dan awal abad 11 M. "Manik-manik dari Pulau Kampai itu, bukan hanya terbuat dari mutiara, namun juga terbuat dari kaca yang memerlukan teknologi untuk memproduksinya," ungkapnya. Hal ini menunjukkan, kata Nur Elly, pada masa itu masyarakat Pulau Kampai sudah mengalami kemajuan yang luar biasa, di bidang teknologi.(BS11)


Tag:

Berita Terkait

Wisata

Praktikum Arkeologi, Mahasiswa SKI UIN Ar-Raniry Kunjungi Sejumlah Situs di Aceh Utara