Beritasumut.com-Masjid Azizi adalah Masjid yang berada di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Masjid yang berada persis di pinggir jalan sudah berusia ratusan. Masjid ini sudah digunakan sejak tahun 1902. Dan pembangunannya sudah dimulai sejak tahun 1899 oleh Sultan Langkat Haji Musa dan diresmikan oleh putranya, Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah pada tanggal 13 Juni 1902. Bendahara Badan Kemakmuran Masjid Abu Hasan Syazali, Selasa (06/06/2017), mengatakan, Masjid Azizi adalah masjid yang masuk sebagai cagar budaya sehingga kelestariannya tetap terjaga hingga saat ini. "Tidak boleh adanya perubahan fisik bangunan tanpa ada komunikasi dengan cagar budaya," katanya. Dia mengatakan, Arsitektur Masjid Azizi memadukan kebudayaan Melayu dengan Turki, Arab, Persia dan juga India. Hal itu terlihat pada ornamen ukiran yang terdapat di pagar masjid, bentuk kubah dan jendela masjid. "Jendela masjid didatangkan dari India. Masih ada yang asli dan sebahagian lagi merupakan replika. Kaca yang asli sudah berwarna pudar sedangkan yang sudah diganti warnanya masih jelas," katanya. Dia mengatakan di dalam masjid atau tepat di bawah kubah utama masjid tergantung lampu coklat dengan bohlam putih. "Lampu gantung ini sudah ada di masjid ini sejak tahun 1902. Saya kurang tahu asal lampunya dari mana tapi kemungkinan berasal dari Turki atau Persia," katanya. Berbeda dengan lampu gantung pada umumnya, di tubuh kerangka lampu berwarna coklat tersebut terdapat 99 bola lampu berwarna putih. Banyaknya lampu melambangkan Asmalulhusna. Selain itu, satu mihrab (mimbar berukuran tinggi) berwarna coklat menambah keindahan masjid. Terbuat dari kayu jati yang diukir, mihrab itu hingga kini masih dipergunakan setiap salat. Keindahan masjid semakin lengkap dengan hadirnya tulisan kaligrafi yang menghiasi seluruh bagian tengah dinding masjid. Beberapa centimeter di atasnya dinding dipenuhi gambar kubus dengan perpaduan gambar bunga bewarna orange dan kuning. Berdasarkan amatan, kondisi masjid Azizi terlihat semakin cantik setah dipoles cat kuning kehijau-hijaun dan dikombinasikan dengan cat minyak hijau. Dua kubah utama masjid dan kubah kecil lainnya juga memancarkan warga hitam sempurna setelah dipoles ter. Ter adalah bahan yang digunakan untuk membuat aspal. "Ter dipakai agar warnanya kuat dan awet," katanya. Menurut Hasan, Masjid tersebut mampu menampung hingga 1.500 jamaah. Namun bila teras digunakan mampu menampung 3000 jamaah. Di lingkungan masjid terdapat tiga lokasi makam. Makam yang berada di dalam areal masjid adalah makam para raja-raja. Di balik dinding makan terdapat ratusan makam umum sedangkan di sekitar area parkir terdapat makam pahlawan nasioal Amir Hamzah. Keindahan masjid yang memadukan gaya Eropa, Melayu dan India ini membuatnya dijadikan rujukan pembangunan masjid Zahir di Kedah, Malaysia.(BS08)