Debat Ketiga Pilgubsu, Djarot-Sihar Fokus Program, Edy-Musa Lebih Banyak Slogan

- Rabu, 20 Juni 2018 16:05 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir062018/3018_Debat-Ketiga-Pilgubsu--Djarot-Sihar-Fokus-Program--Edy-Musa-Lebih-Banyak-Slogan.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/IST
Beritasumut.com-Debat ketiga pemilihan gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) kembali digelar Selasa (19/06/2018) malam. Debat yang mengangkat tema penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM) ini semakin mengkukuhkan pembeda antara pasangan nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (DJOSS) dan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas). 

 

Pasangan DJOSS lebih mengedepankan pendekatan program dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Misalnya dalam konflik agraria antara para petani di Perkebunan Ramunia Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang dengan Kodam I Bukit Barisan yang berlarut-larut. Kasus sengketa tanah antara militer dan warga terkait tanah garapan itu sampai saat ini belum menemui titik terang.

 

Dalam debat tadi malam, Djarot mengklaim membawa salah seorang petani, Open Manurung, di tengah-tengah hadirin. Open adalah petani di Ramunia. “Beliau ingin mengurus haknya. Tapi, dia justru mendapat perlakuan diskriminatif hingga trauma berkepanjangan. Saat konflik agraria terjadi, hukum tak berpihak kepada rakyat kecil,” katanya. 

 

Pernyataan Djarot di awal debat tersebut tentu saja langsung mengkritik penanganan sengketa tanah antara rakyat di Ramunia dan Kodam I Bukit Barisan. Menurut dia, dalam situasi tersebut pendekatan hukum saja tak bisa dilakukan. Sebab, itu berarti pemerintah tutup mata terhadap permasalahan sesungguhnya. “Harus mengedepankan musyawarah dan mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

 

Menanggapi itu, Edy menganggap bahwa perkara tersebut sudah final. “Ramunia itu tanah Kodam. Tanah negara. Ada warga sok tahu yang ingin memilikinya. Silakan urus tanah itu ke Kodam. Bukan urus ke saya,” kata Edy. 

 

Edy mengklaim bahwa kasus tersebut bukan lagi tanggung jawab dia. Sebab, dia sudah tidak lagi menjabat sebagai Pangdam. “Saya Pangdam pada 2015,” katanya. Padahal, pada tahun yang sama terjadi gesekan antara tentara dan masyarakat. Sejumlah warga menjadi korban penganiayaan oleh tentara. 

 

Menurut Edy, penegakan hukum harus tegas. Tanpa pandang bulu. Mereka yang melanggar hukum adalah para pengacau. “Ini kalau saya yang memimpin, (para pengacu) ini saya hilangkan karena merusak demokrasi. Demokrasi harus tegak,” katanya. 

 

Debat juga merambah ranah penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Pasangan Edy, Musa Rajekshah, menyebut bahwa Sumatera Utara adalah provinsi kedua dengan jumlah pengguna narkoba paling banyak. “Sedangkan nomor satu adalah provinsi DKI Jakarta,” kata Ijeck—sebutan Musa Rajekshah. 

 

Padahal, berdasarkan data yang dirilis Badan Narkotika Nasional, provinsi terbanyak pengguna adalah DKI Jakarta kemudian Daerah Istimewa Yogyakarta. Peringkat ketiga adalah Kalimantan Timur. Data itu pernah disampaikan langsung oleh Kepala BNN  Provinsi Kaltim Brigjen Pol Raja Haryono tahun lalu. 

 

Debat mulai memanas ketika pertanyaan panelis membahas pemberantasan korupsi. Sumut dinyatakan sebagai salah satu provinsi paling rawan korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penyebabnya, dua gubernur berturut-turut karirnya berakhir gara-gara korupsi. Bagaimana memberantasnya?

 

Djarot mengatakan bahwa pendekatan sistem mutlak diperlukan. Caranya dengan melakukan transparansi anggaran melalui e-budgetting, e-procurement, e-planning, hingga e-catalogue. Tujuannya, masyarakat bisa berpartisipasi aktif. “Dan jika ada penyimpangan bisa segera melaporkan untuk segera kami tindak lanjuti,” katanya. 

 

Djarot lantas melempar bola kepada Musa. Mantan Walikota Blitar dan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bagaimana Eramas akan memimpin gerakan pemberantasan korupsi di Sumut jika Musa sendiri pernah dipanggil KPK dalam kasus bagi-bagi dana suap dengan terdakwa gubernur Gatot Pujo Nugroho. Alih-alih menjawab, Musa justru balik menuding Djarot sebagai orang baru di Sumut.“Pak Djarot musti lebih lama lagi d sumut. Biar tau cerita sebenarnya. Kalau lah kita mau cerita tentang korupsi di Sumut banyak sekali,” katanya.(BS09)


Tag:

Berita Terkait

Sumut Memilih

Pemprov Sumut Terus Mendorong Terwujudnya Ekosistem Demokrasi yang Sehat

Sumut Memilih

Lantik Bupati dan Wakil Bupati Madina, Gubernur Sumut Ingatkan Kesejahteraan Rakyat Sebagai Landasan Bekerja

Sumut Memilih

Rapat Koordinasi Evaluasi Pengawasan Bersama Stakeholder Pada Pilkada Tahun 2024

Sumut Memilih

Sertijab Bupati Asahan, Wagub Sumut Ajak Selaraskan Pembangunan Pemkab dan Pemprov

Sumut Memilih

Ada Calon Kepala Daerah Didiskualifikasi MK, Ini Pembelaan Diri KPU di DPR

Sumut Memilih

MK Putuskan Pilkada Pasaman Diulang, Cawabup Eks Napi Didiskualifikasi