Beritasumut.com-Isu-isu sosial dengan mengatasnamakan agama yang sengaja dimunculkan oknum-oknum tak bertanggungjawab khususnya jelang Pemilihan Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara dinilai sebagai bentuk kemunduran demokrasi. Oleh karenanya calon Gubernur Sumut Edy Rahmayadi berharap, masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu murahan kalau calon Kepala Daerah yang patut dipilih harus yang sesuai dengan agama mereka. "Saya sempat mendengar kabar, karena saya Muslim tak patut dipilih oleh masyarakat yang di luar agama saya. Ini sebuah kemunduran demokrasi. Saya ini mau jadi pimpin Sumut, bukan jadi pemimpin agama. Saya heran, kenapa ada orang-orang yang berpikiran sempit dan menghasut demi mendapatkan keuntungan pribadi," curhat Sang Mantan Pangkostrad, saat bersilaturami dan berdialog dengan para tokoh agama, tokoh adat dan tokoh Pemuda di Balige, Tobasa, Kamis (22/03/2018). Edy pun mengajak masyarakat yang hadir untuk berani jujur menyuarakan dan memperjuangkan kebenaran diatas segala kepentingan kelompok. Jujur dan berani berubah kearah yang lebih baik untuk bersama-sama memperjuangkan Sumut Bermatabat, slogannya. "Kenapa sekarang ini perbedaan keyakinan dan agama dipersoalkan? Bukankah sejak zaman ompung-ompung kita dulu damai-damai saja? Ini yang harus kita ubah. Jangan gara-gara perbedaan yang ada, kita jadi terkotak-kotak. Sementara ada perjuangan yang lebih mulia untuk mengembalikan martabat Sumut. Ingat saudara-saudaraku, agama itu ada untuk menciptakan kedamaian di muka bumi ini," ujar Edy disambut pekikan Yel Yel Eramas menang. Kunjungan ke Kota Balige, Toba Samosir kali ini Edy Rahmayadi didampingi sang istri, Nahwal Lubis. Dialog yang digelar di pinggiran danau tepatnya di Jalan Pemandian, terlihat cair dan berjalan dua arah. Selain mempertanyakan visi dan misi pasangan Calon Gubernur dan wakil Gubernur Edy Rahmyadi-Musa Rajekshah (Eramas), masyarakat juga menaruh harapan besar Eramas dapat membawa Sumut kembali kemasa keemasan sebagai Provinsi yang berdaya saing, unggul di segala bidang sehingga mengangkat kesejahteraan masyarakat. Edy mengaku prihatin dengan kondisi Sumut yang terus tertinggal dari Provinsi lain. Bahkan Edy mengaku miris berdasarkan Survei Provinsi Sumut dari tingkat kenyamanan hidup masyarakatnya berada di nomor 33 dari 34 Provinsi yang ada di Indonesia. Sumut hanya satu tingkat diatas Papua dan satu tingkat di bawah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). "Dengan kekayaan alam yang kita miliki, saya pikir ini sudah tidak benar. Untuk itulah saya rela melepas jabatan dan karir saya sebagai Pangkostrad untuk membenahi kampung besar saya, Sumatera Utara," tegas Edy. Sementara itu, tokoh adat Garinging mengaku bangga dengan semangat dan pengorbanan yang ditunjukan Edy Rahmayadi untuk membenahi Sumut. Bahkan dirinya secara langsung mengundang Edy Rahmayadi untuk hadir dalam peresmian Pepustakaan di Desanya pada 31 Maret 2018 mendatang. (BS03)