beritasumut.com - Sosok Gubernur Sumut Edy Rahmayadi memang cukup menyita perhatian masyarakat. Bahkan karena gaya bicaranya yang tegas dan ceplos sebagian masyarakat menganggap Edy Rahmayadi pemarah. Namun tak sedikit masyarakat yang memahami dan senang dengan gaya bicara yang spontan yang menunjukkan keakraban. Termasuk juga kepemimpinannya yang tegas dan beribawa. Khususnya dalam menegakan aturan dan keberpihakan kepada masyarakat. Terkait karakter yang dimiliki Edy Rahmayadi turut menjadi pembahasan dalam ajang silaturahmi dengan Wartawan di Aula T Rizal Nurdin Jl Jenderal Sudirman No:41 Medan, Jumat (28/01/2022). Seakan menjadi ajang lebih mengenal sosok Edy Rahmayadi, pelaksana Tugas (Plt) Sekda Afifi Lubis mengajak agar Wartawan khususnya yang sering bersinggungan langsung dengan Gubernur Edy paham dengan karakater dan gaya bicara orang nomor satu di Sumut itu. "Tadi secara jujur Pak Gubernur mengatakan apapun yang terjadi aku tidak bisa mengubah modelku. Ini Juga harus sama-sama kita ketahui. Tentu juga kami berharap kedepan kita paham, inilah sosok Gubernur kita. Jadi tidak semua bisa ditafsirkan bahwa apa yang beliau ucapkan itu semuanya bernada untuk melakukan pendeskreditan, tapi semata-mata memang bawaan, ini persoalan karakter," ujar Afifi Lubis. Afifi pun meminta apa menjadi karakter Gubernur Edy tidak disalahkan. Namun menganggap karakter yang dimiliki Edy Rahmayadi sebagai kekhasan sosok Gubernur Sumut saat ini. "Diharapkan kita Semuanya clear dalam melihat persoalan ini. Jangan nanti saat tadi pak Gubernur memanggil hey Gondrong kepada Pak Zul Harahap malah lantas itu dianggap Pak Gubenur menghina. Atau hey botak kepada pak ZulFikar. Artinya bukan maksudnya menghina tapi itu gambaran kekraban kita. Artinya memahami karakter ini. Makanya ini perlu kita clearkan. Mari samakan persepsi kita sehingga tidak menafsirkan yang macam-macam, ke depan," harapnya.Sebelumnya Edy Rahmayadi menegaskan kalau peran wartawan sangat besar dalam mewujudkan Sumut Bermartabat. Menurut Edy sehebat apapun program OPD tidak berarti tanpa penyebaran informasi dari wartawan. Edy juga menyinggung soal karakter yang dimilikinya. Namun Edy menegaskan kalau ketegasan dan gaya bicaranya yang keras bukanlah bentuk suatu kemarahan. "Jangan nanti kalian tulis Gubernur marah-marah lagi. Terus aku dibully. Saya tak pintar marah-marah. Kalau aku marah saya ambil pistol, dor. Begitu saya marah. Tapi memang bahasa saya seperti itu.Tak bisa kau paksakan saya berkata seperti orang Solo, orang Jawa berkata lemah lembut, halus. Saya tak bisa halus. Saya berulang kali sudah sampaikan kepada OPD wartawan, kepada khayalak Sumut. Saya pernah belajar lemah lembut. Iya apa kabar, tiga bulan sakit saya," ujar Edy disambut tepuk tangan peserta yang hadir. [br] Edy pun mengaku banyak yang sudah memberikan masukan kepadanya. Termasuk juga seorang wartawan bernama Zul Gondrong yang kebetulan saat itu hadir. "Ini si gondrong ini sudah bolak-balek, menasehati saya. Bapak ni oke, tapi kurangi (marah-marah). Udah kucoba ku kurangi. Nah sekarang mana kalian pilih,ku kurangi itu tapi kutipu kalian. Mana yang kalian mau. Biarkan aku seperti ini yang penting aku sehat," katanya lagi. Edy pun mengajak wartawan untuk meluruskan niat membangun Sumut. Dengan kondisi Wilayah Sumut yang cukup luas 33 Kabupaten Kota tidak mungkin seorang Kepala Daerah dibantu OPD bisa mengurusinya tanpa peran wartawan. "Yang paling penting niat apa yang harus kita lakukan bersama. Rakyat Sumut ini besar. Saya pernah menguasai Indonesia ini saat jadi Pangkostrad tapi tak sesusah mengurusi Sumut ini. Contohnya saya bilang kepada Bupati, jangan kalian korupsi, eh korupsi juga. Ketangkap lagi dan Sumut ini kembali peringkat satu kasus korupsi," pungkasnya.(BS03)