Beritasumut.com-Tak hanya piawai membaca puisi dan menulis karya sastra, Tiflatul Husna, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al Washliyah Medan ini juga punya banyak sisi yang menarik. Pekan ini, Beritasumut.com mendapat kesempatan untuk bertanya langsung dengan perempuan asal Kota Kerang, Tanjung Balai kelahiran tahun 1992 silam.
Husna, demikian dia disapa memulai karir kepenulisannya dari bergiat di Komunitas Pecinta Membaca dan Berkarya (KOMA) tahun 2009. Kemudian pada tahun 2016, Tiflatul Husna mendirikan komunitas literasi bernama Diskusi Sastra Indonesia (Diksi) bersama pembina Muhammad Bahri (suami Husna), dan Fita Fatria. Nama DIKSI ini disematkan oleh Dani Sukma (sekarang Dosen UNPRI). Bersama anggota 12 personil lainnya, komunitas ini rutin berdiskusi tentang buku, mengisi ruang karya di banyak media lokal dan nasional. Anggota Komunitas Diksi ini juga terkenal dengan memenangkan berbagai kompetisi, hingga menerbitkan buku.
Melihat peluang self-publishing (penerbitan mandiri) yang semakin tinggi, Husna bersama suaminya Bahri, kemudian mendirikan CV bernama Pustaka Diksi. "Alhamdulillah, sebagai penerbitan independen (indie) di Kota Medan, Pustaka Diksi telah menjadi bagian dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)," kata Ibu dari dari Barra Egan Bahri dan Fuchsia Amirah Bahri ini.
Perjalanan literasinya, menurut Husna adalah bagian dari fitrah diri yang harus disalurkan. Jika tidak, maka akan menemukan kegelisahan. "Beberapa prestasi di bidang kepenulisan, Juara 1 Lomba Menulis cerita rakyat berjudul Asal-mula Desa Pancurbatu (Kisah Cinta Sang Nelayan dan Putri Merak Jingga) tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumut. Naskah cerita anak berjudul Pelangi di Warung Kakek terpilih dalam GLN 2018 oleh Kemendikbud Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Novel anak berjudul Kellep terpilih dalam GLN 2019 di Balai Bahasa Sumut," paparnya.
Sementara itu, Naskah cerita rakyatnya berjudul Tambun Tulang dan Batu Pikir Silau Laut terpilih dalam kategori 28 naskah terbaik dalam lomba menulis mitos/legenda Sumatra Utara yang diadakan oleh Forum Sastra Deli serdang 2019. Juara Harapan 3 lomba yang diadak Firma Harris dengan judul cerpen Panglatu. Husna menyebut, sejumlah buku dalam bentuk cerpen, cerita anak, dan puisi baik antologi tunggal maupun bersama, juga menulis buku pelajaran setingkat SD sudah ditulisnya. Karya-karyanya pun telah tersebar di harian Kota Medan.
Terlebih dengan hadirnya Pustaka Diksi, lanjutnya, menjadi motor yang membuatnya semakin tak bisa lepas dari aktivitas literasi. "Pustaka Diksi menerima segala jenis tulisan, apakah buku teks ataupun buku sastra. Dapat dicetak sesuai kehendak penulis dan ada ISBN, jadi terdaftar di Perpusnas. Karenanya merintis usaha ini membuat saya terus belajar tentang hal-hal baru. Bukan hanya bagi saya, namun juga bagi keluarga. Pustaka Diksi ini jugalah yang membuat dapur kami 'menyala'," ujar Husna.
Sosok Husna yang tegar dan kuat, saat ini sedang berjuang dalam pengobatan anak pertamanya, Egan yang divonis menderita kanker mata (Retinoblastoma) sejak usia 11 bulan. "Saat ini Egan telah menjalani kemo siklus ke-4. Sampai di titik ini saya berdiri, hanya kesyukuran yang ingin saya ucapkan. Walau perih hati saya menjelma airmata, itu adalah kemakluman. Dari kondisi itulah titik balik kehidupan saya," katanya.
Dia bercerita, awalnya dia menemukan bintik putih di bola mata anaknya. "Kami menduga hanya cairan biasa atau katarak. Di usia 11 bulan itu kami bawa Egan ke Rumah Sakit Mata di Medan, hasilnya positif Retinoblastoma. Saat itu, saya merasa biasa saja, lebih tepatnya tidak percaya. Saya dan suami berpikir, ini hanya kesalahan diagnosa. Lalu, kami memutuskan untuk berangkat ke Penang - Negara Malaysia, guna menegaskan status penyakit Egan," bebernya.
Ternyata di hari Ulangtahun Egan yang pertama, Retinoblastoma menjadi vonis yang tak disangka-sangka keluarga Husna. "Seketika langit seakan menimpa dada saya, tapi di antara isak tangis yang tidak lagi terdengar, tangan mungil Egan menepuk-nepuk pipi saya. Mama, mama, katanya. Saya diam, bahkan untuk membuka mata saya tak bisa. Hanya bisa merasakan, mendengarkan suara yang ada di sekitar. Saya ikhlas jika dia hanya memiliki satu bola mata. Semoga Allah jadikan dia anak saleh yang menyejukkan hati ini. Sedangkan teman-teman sepantarannya sudah beberapa yang berpulang ke hadirat Allah (meninggal dunia)," jelas Husna tegar.
Kepada para Orangtua yang anaknya divonis kanker dan saat ini sedang berjuang, Husna berpesan agar tetap semangat mencari informasi untuk memulihkan kondisi anaknya. "Berat memang menerima kenyataan, tapi kita harus selalu sadar dan tak berkecil hati. Mari sama kita benahi, tanamkan kembali iman kita, terus dampingi dan fasilitasi tumbuh kembangnya, sehingga anak menemukan desain terbaik dari dirinya. Maka, ketika dia mampu menyahuti panggilan Rabb-nya, sungguh 'casing' itu tak lagi catatan utama, bukan itu tolak ukurnya,†pesannya.
Husna mengatakan, baginya kehidupan ini adalah sekolah tanpa ijazah. "Dengan belajar, saya bersyukur bisa berproses dan berprogress sehingga dapat menerima keadaan anak dengan haluan pikir yang jauh berubah. Keadaan ini tidak saya anggap suatu musibah, namun justru merasa sedang dituntun ke suatu jalan menuju Allah SWT," tutup mahasiswa Institut Ibu Profesional, serta peserta di Kelas Berbenah Sadis Elementary-Intermediate, juga Kelas memasak Spatula Warrior yang sedang berjalan ini. (BS02)