Beritasumut.com-Usai menjalani operasi closure dengan tindakan tutup colostomy, anak diduga korban malpraktik, Anggirlan Nasution (11) meninggal dunia, Minggu (26/02/2017) sekitar pukul 02.45 WIB. Kabar duka tersebut disampaikan Kepala Desa Marindal II, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, tempat bocah tersebut tinggal, Jufri Antono kepada wartawan. Jufri mengaku, pihak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik tidak mau memberikan keterangan dari penyebab Anggirlan sampai meninggal dunia. Sehingga hal ini menimbulkan kecurigaan dan dugaan adanya kesalahan prosedur yang dilakukan pihak RS pasca dilangsungkannya operasi, Jumat (24/02/2017) lalu. "Begitu dapat kabar Anggi meninggal, kami langsung berangkat. Setibanya di RS pukul 04.00 WIB, tubuh Anggi sudah terbujur kaku di tempat tidur ruang rawat inap bedah Rindu B lantai dua," jelasnya. Jufri menyampaikan, perawat yang sedang bertugas saat itu mengatakan Anggi mengalami sesak nafas dan sudah diberi pompa pernafasan agar reda. Sedangkan dokter jaga yang bertugas, yakni dr Heru juga membenarkan kondisi tersebut, bahwa pasien sudah lemas dan tidak bernafas lagi. Namun, pihaknya enggan memberi penjelasan lengkap. "Akan memakan waktu dua jam kalau mau dijelaskan. Karena banyak penyebab sesak nafas," ujarnya menirukan dokter jaga itu. Terpisah, Kepala Sub Bagian Humas RSUP Haji Adam Malik, Masahadat Ginting saat dikonfirmasi mengenai kabar meninggalnya Anggirlan mengaku belum bisa memberikan penjelasan. Karena saat ini, ia mengaku sedang berada di luar kota. "Besok (Senin-red) saya jelaskan ya. Saya lagi di Kabanjahe. Terima kasih," tegasnya singkat. Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Adam Malik, Mardianto mengatakan jika secara klinis meninggalnya Anggirlan, nanti akan dijelaskan oleh dokter penanggung jawab pasien. "Namun, secara umum orang tua pasien sudah diterangkan mengenai kondisi pasien yang memang sudah tidak bagus dan akan direncanakan tindakan lebih lanjut. Tapi kondisi infeksi memperburuk keadaan pasien," terangnya. Sementara itu, Ayah Anggirlan, Adlin Nasution mengatakan, sebelum meninggal dunia, Anggirlan meminta kepadanya dan istrinya untuk selalu berada disampingnya. Adlin menceritakan, usai menjalani operasi, sekitar pukul 23.00 WIB, Anggirlan pun dibawa ke ruangan untuk pemulihan. "Selesai operasi Anggi dibawa ke ruang pemulihan oleh dokternya dan kami melihat Anggi sudah bisa ngomong. Bahkan juga menyuruh kami untuk ada disampingnya," jelasnya di rumah duka, di Jalan Pasar IV Dusun VI, Desa Marendal II. Di ruang pemulihan itu, Adlin menuturkan Anggirlan terlihat sudah mulai berbicara kepada dirinya. Tapi beberapa waktu kemudian, ia menggigil dan tangannya terlihat membiru. "Melihat itu lantas ibunya panik dan memanggil perawat. Setelah diperiksa, ternyata selang saluran kotorannya masih tertutup, itu yang membuat Anggi sempat menggigil," jelas Adlin. Selanjutnya, Pada Sabtu (25/02/2017) pukul 22.30 WIB, Anggirlan mulai terlihat gelisah dan ngelindur. Hingga akhirnya, tanpa di duga Anggirlan mengembuskan nafas terakhirnya. "Sabtu malam itu tiba-tiba Anggi gelisah. Dan tepat pukul 02.45 WIB, kami terkejut karena melihat Anggi sudah meninggal dunia," ujarnya. Anggirlan diduga menjadi korban malpraktik di RSUD dr Pirngadi Medan atas operasinya pada 2015 lalu. Dimana pasca operasi kedua usus Anggirlan dibiarkan berada di luar.Akibatnya, selama lebih kurang dua tahun Anggirlan terus menahan sakitnya. Hingga akhirnya Anggirlan dibawa ke RSUD H Adam Malik pada Rabu (22/02/2017) lalu untuk menjalani operasi.(BS07)