Beritasumut.com-Pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi, yakni Pertalite dan Solar. Sinyal kenaikan harga BBM ini mencuat setelah beban subsidi BBM dan kompensasi energi dalam APBN 2022 membengkak hingga Rp 502 triliun. Terkait dengan rencana tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI Rudi Hartono Bangun mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan menaikkan harga BBM, karena akan berdampak di seluruh sektor yang saat ini sedang beranjak pulih.“Jika kenaikan BBM berlaku, otomatis ada harga-harga barang yang akan naik. Pedagang semuanya pasti membebankan barangnya dengan menaikkan harga-harganya di pasaran. Dan pemulihan ekonomi yang baru mulai tumbuh dan mulai berlari, otomatis akan melambat dan slow kembali,†ungkap Rudi yang juga Legislator Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Utara (Sumut) III dalam siaran tertulisnya, Kamis (25/08/2022).
Baca Juga : Bos Judi Online di Medan Ditetapkan DPO
Lebih jauh, Rudi menjelaskan jika saat ini daya beli masyarakat baru pulih dari ‘sakit’ karena pandemi Covid-19. Kenaikan BBM, lanjut Politisi Partai NasDem ini, akan berdampak masif ke semua sisi kegiatan ekonomi. “Suka atau tidak suka, perusahaan akan mengalami kenaikan beban usaha dan operasionalnya karena naiknya harga BBM. Beban produksi dengan sendirinya akan naik, dan perusahaan pasti membebankan kenaikan biaya produksi pada harga barang yang dijual ke masyarakat. Dan masyarakat tentu ada yang mengurangi dan mengerem pembelian kebutuhan yang tidak penting. Otomatis pertumbuhan ekonomi akan melambat,†jelas Rudi.Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa kenaikan BBM akan diumumkan Presiden Joko Widodo pada pekan ini. Presiden Jokowi pun buka suara soal rencana kenaikan BBM subsidi jenis Pertalite yang mengemuka belakangan ini. Menurutnya, kebijakan itu harus diputuskan dengan hati-hati. Pasalnya, kenaikan harga komoditas tersebut akan berpengaruh terhadap masyarakat.Presiden Jokowi mengatakan jangan sampai kenaikan Pertalite itu berdampak pada penurunan daya beli, lonjakan inflasi, hingga pertumbuhan ekonomi. "Ini menyangkut hajat hidup orang banyak jadi semua harus diputuskan dengan hati-hati dihitung dampaknya jangan sampai menurunkan daya beli, konsumsi rumah tangga, menaikkan inflasi yang bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi semuanya saya suruh menghitung betul sebelum diputuskan," kata Presiden Jokowi, Selasa (23/8/2022).(BS02)