Beritasumut.com-Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, moderasi agama penting dikedepankan untuk bijak menyikapi keberagaman. Moderasi agama, kata Menag, adalah bagaimana agama disikapi, dipahami kepada esensi dan substansi agama itu sendiri. “Karena semua agama itu mengajarkan ajaran yang moderat, dalam artian moderat itu lawan kata dari ekstrim. Tidak ada agama yang mengajarkan kepada kita untuk bertindak di luar batas. Inilah jawaban pertanyaan apa yang dilakukan oleh Kementerian Agama dalam rangka meredam tindakan radikalisme dan ekstrimisme yang masih saja muncul di masyarakat,” ujar Menag yang dilansir dari kemenag.go.id, Sabtu (21/10/2017). Menag Lukman berpesan, untuk mengatasi hal tersebut, edukasi mengenai moderasi agama telah dilakukan Kemenag dengan melakukan edukasi kepada masyarakat. "Melalui para tokoh-tokoh agama dengan mengedepankan substansi dan esensi agama, supaya bisa dipahami dengan baik. Semua agama menurut Lukman mengajarkan pemeluknya untuk bertindak secara proporsional, moderat. Pemahaman akan substansi dan esensi agama yang baik, akan berdampak pada bagaimana masyarakat kita melihat keragaman," bebernya. Menag menilai, kalau semua pemeluk agama memiliki pemahaman yang sama dalam melihat keragaman, maka sikap ekstrim dapat dihindari. "Pada hakekatnya kita semua ini sama karena semua agama berupaya untuk melindungi harkat dan martabat kemanusiaan," jelas Lukman. Bila selama ini masih muncul perbedaan sikap dalam memahami keragaman, menurut Menag ini berkaitan dengan wawasan yang dimiliki. Termasuk, munculnya radikalisme dan ekstremisme muncul karena adanya keterbatasan wawasan. "Radikalisme, tindakan ekstrim itu muncul juga karena keterbatasan wawasan yang menganggap dirinya saja yang paling benar, kemudian menganggap pihak lain yang berbeda dengan dirinya kemudian menjadi salah,” lanjut Lukman. Hal ini, lanjut Menag, yang kemudian memicu adanya upaya-upaya memaksakan kehendak dengan cara-cara kekerasan agar kelompok yang berbeda itu sama dengan kelompoknya. “Padahal keragaman itu justru lahir karena ditengah-tengah keterbatasan kita, kita harus saling bersinergi, saling mengisi dan saling melengkapi satu dengan lainnya,” pungkasnya. (BS02)