Beritasumut.com-Menteri Tenaga Kerja (Menaker) RI Hanif Dhakiri menilai bahwa isu serbuan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal negeri Tiongkok yang marak di media sosial merupakan sikap yang terlalu melebih-lebihkan atau lebay. Pasalnya hal itu bisa membuat bangsa lupa untuk membangun daya saing. “Istilah yang dipakai itu lebay, karena faktanya tidak seperti itu. Bahwa ada yang ilegal, ya. Tetapi jumlahnya masih kecil dan terkendali,” ujar Hanif kepada wartawan usai membuka acara Silaturahim Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Sumatera Utara (Sumut) di Hotel Garuda Plaza Medan, Jumat (3/1). Hanif yang juga didampingi Gubernur Sumut HT Erry Nuradi, Ketua DPW PKB Sumut Ance Selian dan Sekretaris Komisi E DPRD Sumut Ahmadan Harahap menyebutkan bahwa pemerintah tidak menampik adanya kemungkinan masuknya tenaga kerja asing ilegal ke Indonesia melalui berbagai cara. Namun dirinya menegaskan, jumlahnya tidak seperti yang diisukan di sosial media belakangan ini. “Kalau dibanding tenaga kerja asing di negara lain, tentu lebih kecil. Di Singapura itu, jumlah tenaga kerja asing itu sepertiga dari penduduknya. Sementara kita secara nasional saja cuma 74 ribu,” katanya. Selain itu, lanjut Hanif, kasus-kasus yang terjadi seputar tenaga kera asing ilegal jumlahnya kurang dari 1.000 pertahun. Meskipun jumlahnya tergolong kecil, tetapi tetap ditanggapi serius dan ditangani. Dengan begitu, dirinya kembali mengingatkan agar isu tersebut tidak dibesar-besarkan.“Khawatir boleh saja, tetapi masyarakat jangan terlalu khawatir. Karena nanti kita malah lupa bahwa kita ini harus membangun daya saing, terutama SDM kita,” sebutnya. Menurutnya, isu menakut-nakuti soal serbuan tenaga kerja asing ilegal ini sudah muncul sebanyak tiga kali dalam dua tahun terakhir, yakni pada Februari 2015, kedua sekitar April 2016 dan selanjutnya pada Desember 2016. Begitu juga sebelum digelarnya Pilpres 2014. Hanif juga mengatakan bahwa bahan baku konflik yang paling berbahaya dan mudah disulut ada tiga yakni soal agama, etnis dan komunis. Karenanya dia meminta agar masyarakat lebih jeli dan cerdas menyikapi berita dan informasi yang beredar terutama di sosial media, sebab banyaknya informasi yang hoax.“Saya minta agar kita ini lebih cerdas dalam menyikapi informasi beredar, terutama melalui sosial media. Karena banyak sekali hoax di sana,” pungkasnya.(BS03)