Beritasumut.com-Indonesia saat ini menempati posisi ke 110 mengenai kualitas kependudukan.Sedangkan di Asia Tenggara, kualitas kependudukan Indonesia hanya menempati posisi ke 5 di bawah negara seperti Singapura dan Malaysia.Hal tersebut dikatakan oleh Deputi Pengendalian Penduduk Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Wendy Hartanto usai pertemuan Desiminasi Hasil Kajian Analisis Dampak Kependudukan di Aula BKKBN Perwakilan Sumatera Utara, Kamis (1/12/2016). Wendy mengungkapkan, bahwasanya kualitas kependudukan Indonesia saat ini masih sangat begitu rendah."Kualitas kependudukan kita hanya di peringkat 110. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara sekitar, kita masih cukup rendah," sebutnya. Wendy menjelaskan, karena rendahnya kualitas kependudukan ini, tentu mengakibatkan ledakan penduduk apalagi bila dibarengi dengan tingginya jumlah penduduk. Sehingga, sejumlah persoalan sosial seperti pendidikan dan kesehatan yang diharapkan pemerintah menjadi sulit untuk tercapai. Ledakan penduduk ini, lanjutnya, juga mengakibatkan sejumlah bencana alam yang justru sangat membahyakan penduduk itu sendiri. Selain itu, dengan tingginya jumlah penduduk, namun tanpa kualitas akan menyebabkan bangsa Indonesia hanya menjadi pekerja kasar apabila bekerja di luar negeri. "Sebetulnya tingginya jumlah penduduk jika diimbangi dengan kemampuan manajemen pemerintah yang seimbang, ledakan penduduk tidak akan terjadi. Seperti Amerika yang penduduknya banyak, namun karena berkualitas justru mereka bisa menerima warga Negara asing untuk masuk dan bekerja di sana," jelasnya. Wendy menambahkan, tingginya jumlah penduduk dikarenakan angka kelahiran masih tergolong tinggi. Meskipun bila dibandingkan tahun 1970-an, angka kelahiran penduduk cukup berhasil ditekan."Dulu jumlah anak 5 sampai 6 baru memutuskan untuk KB, tapi sekarang, 2 atau 3 jumlah anak sudah cukup. Memang sekarang untuk pengendalian cukup berhasil, namun dalam tumbuh penduduk belum seimbang," terangnya. Di tempat yang sama, Kaper BKKBN Perwakilan Sumut, Temazaro Zega didampingi Kasubag Humas Janter Sitorus menyatakan, dalam program Keluarga Berencana (KB) Sumut perkembangannya memang banyak tantangan. Khususnya di wilayah Sumut bagian Barat, yang angka kelahirannya masih tinggi, salah satunya karena difaktori oleh latar belakang budaya. Namun begitu, lanjut Temazaro, bila dari sisi laju pertumbuhan penduduk Sumut masih dibawah nasional. Tetapi kata dia, hal itu bukan dikarenakan keberhasilan KB di Sumut yang luar biasa, melainkan karena angka migrasi yang tinggi."Di wilayah Timur, 2-3 anak mereka umumnya sudah memilih KB. Namun untuk di wilayah Sumut bagian Barat, ketika telah memiliki anak 3-5, barulah berkeinginan untuk melakukan KB," pungkasnya. (BS03)