Terkait Kenaikan Harga Rokok, Pemerintah Dinilai Naif dan Diskriminatif

- Senin, 22 Agustus 2016 22:30 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir082016/3920_Terkait-Kenaikan-Harga-Rokok--Pemerintah-Dinilai-Naif-dan-Diskriminatif.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/IST
Rokok
Beritasumut.com-Rencana pemerintah untuk menaikkan harga cukai rokok sebesar Rp 50.000 per kemasannya dalam waktu dekat ini, menimbulkan kecemasan dan pro kontra di masyarakat. Tanggapan yang muncul pun beragam, terlebih bagi para perokok atau penjual yang selama ini menggantungkan hidupnya dari berjualan rokok. Harga rokok per kemasannya itu dianggap sangat tidak masuk akal dan menzholimi .

 

Pengamat sosial Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Mujahiddin berpendapat, Kebijakan pemerintah menaikan harga rokok sangat naif dan diskriminatif terhadap kelompok perokok. Apalagi disebutkan, pemicu kemiskinan pada rumah tangga adalah karena rokok di samping beras, sehingga dengan naiknya harga rokok maka jangkauan warga miskin kepada rokok akan turun.

 

"Pemerintah ingin meningkatkan pendapatan dari cukai rokok karena defisit anggaran dalam APBN tetapi dengan cara merugikan kelompok perokok. Padahal, secara general kemiskinan itu justru lebih disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak pernah memihak kepada kelompok miskin. Jadi, jangan kaitkan kemiskinan itu dengan konsumsi rokok," jelasnya.

 

Selain itu, Mujahiddin mengatakan, masyarakat sangat sering terjebak dalam pandangan kesehatan yang menyatakan jika rokok dapat menyebabkan kematian maupun kanker. Hal itu menurutnya tidak bisa diterima begitu saja, karena ada banyak faktot penyebab lain.

 

"Benarkah jika nikotin punya efek mematikan yang begitu besar, dan apa benar rokok menjadi penyebab satu-satunya kanker?. Ada banyak variabel kesehatan lain yang dapat menyebabkan munculnya penyakit ini. Bisa jadi dari makanan yang tidak sehat, termasuk produk mie instan dan lain sebagainya yang sebetulnya dapat menyumbang pertumbuhan kanker," jelasnya.

 

Untuk itu menurut Mujahiddin, kebijakan ini seharusnya dapat lebih adil. Jangan mengorbankan kelompok-kelompok yang selama ini mengantungkan hidupnya kepada rokok, termasuk di dalamnya adalah petani tembakau, buruh dari industri rokok dan perkok itu sendiri."Apakah jika harga rokok naik, petani, buruh menjadi lebih untung? Jangan-jangan akan menimbulkan PHK yang disebkan turunnya permintaan," pungkasnya sembari mengaku dirinya bukan perokok.(BS03)


Tag:

Berita Terkait

Politik & Pemerintahan

Kenaikan Harga Rokok Bisa Cegah Anak Membeli dengan Mudah

Politik & Pemerintahan

Harga Rokok Naik, Beginilah Tanggapan Masyarakat Medan