Gaji Guru PAUD Ersada Suka Makmur Rp110 Ribu/Bulan

- Selasa, 00 0000 00:00 WIB

Kutalimbaru, (beritasumut.com)

Bila merujuk kepada setiap pidato Bupati Deli Serdang Amri Tambunan dalam setiap acara kedinasan terkait mutu pendidikan melalui Konsep Cerdas yang selama ini digaungkan, seakan tidak ada lagi sekolah yang kondisinya memprihatinkan maupun guru yang tidak sejahetra di Kabupaten Deli Serdang.

Namun isi pidato mantan Sekretaris Daerah Kota Medan yang dilahirkan di Tanjung Balai pada 23 Januari 1949 ini, ternyata bertolak belakang dengan kondisi nyata di lapangan.

Buktinya, tiga orang Guru Pendidikan Anak Usia Dini Ersada di Desa Sukamakmur, Kecamatan Kutalimbaru, hanya digaji sebesar Rp110.000 setiap bulannya yang dipungut dari belasan murid.

Penderitaan ini ketahui saat wartawan bertandang ke daerah yang terbilang desa tertinggal ini, Selasa (13/11/2012). Bila diamati, PAUD Ersada yang berlokasi di Dusun VIII Rumah Mbacang, Desa Sukamakmur itu juga kondisinya memprihatinkan.

Proses belajar mengajar dilangsungkan di sebuah bangunan rumah semi permanen dengan papan tulis usang. Teras bangunan juga menyedihkan dengan dinding tepas yang sudah keropos. Ketika disambangi, tampak dua orang wanita muda berada di dalam ruangan tengah mendidik anak-anak usia dini ini.

Marina Br Ginting (35) mengaku sebagai Wakil Kepala Sekolah di tempat itu. Yang satunya lagi mengaku bernama Darni Br Surbakti selaku Bendahara PAUD Ersada. Mereka juga yang bertindak sebagai guru di tempat itu.

Kedua orang pengelola PAUD tersebut menyatakan, pada awalnya PAUD berdiri di Dusun IX Sikabung-kabung. Tapi disana hanya bertahan setahun. Karena tak ada muridnya, PAUD dipindahkan ke Dusun VIII Rumah Mbacang. Di Dusun Rumah Mbacang, status bangunan adalah pinjam selama dua tahun tanpa dikenakan sewa bangunan.

Untuk tahun pertama, Pemkab Deli Serdang masih memberikan bantuan untuk pengadaan makanan tambahan sebesar Rp150.000 dan untuk guru sebesar Rp250.000 per orang setiap bulan. “Mulai tahun kedua, bantuan dari pemerintah sama sekali tidak ada lagi, kecuali berasal dari uang sekolah murid Rp30.000 perorang setiap bulannya yang kesemuanya berjumlah Rp330.000 lalu dibagi tiga,” kata Marina Br Ginting.

Dengan gaji Rp330 ribu dibagi tiga untuk satu bulannya, apa cuku? Dengan mata berkaca-kaca, Marina menjawab, suami mereka sebenarnya keberatan kalau istrinya mengajar murid PAUD dengan hanya bergajikan Rp110.000 sebulan.

“Bahkan suami saya sudah berulang kali melarang saya mengajar di tempat ini dan sempat menimbulkan pertengkaran. Namun karena kami belum tahu ke depannya dan masih berharap pemerintah memperhatikan nasib guru PAUD sehingga kami masih tetap bertahan mengajar walau terkadang anak-anak PAUD dan TK dipindahkan dan disatukan ke tempat lain kalau turun hujan dan ruangan basah akibat atap bangunan bocor,” kata Marina diamini Darni.

Sementara itu, alat mainan anak-anak PAUD Ersada juga sangat memprihatinkan. Ayunan yang dipasang di halaman sekolah sudah pernah ambil korban. Pernah anak didik terjatuh dari tempat itu hingga mengalami luka dan berdarah sehingga harus dibawa berobat ke salah satu klinik.

“Dua buah drum bekas yang berkarat digunakan sebagai terowongan tempat bermain anak-anak. Selain sudah berkarat dan dapat berakibat luka anak-anak, bermain pada drum itu sudah pernah mengakibatkan anak-anak mengalami kecelakaan,” kata kedua pendidik tersebut.

Bila diamati lebih jauh, dua buah alat perosotan untuk tempat bermain anak-anak, kondisinya juga cukup menyedihkan. Tapi tetap digunakan anak-anak karena tidak ada pilihan lain. Semua peralatan tersebut tidak ubahnya sisa-sisa dari bencana alam, karena sebenarnya sudah tidak layak lagi untuk dipakai. Tapi begitulah keadaan PAUD Ersada yang berlokasi di desa terpencil itu.

Gawatnya lagi, isu yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, Pemerintah Desa sepertinya menganggarkan dana PAUD itu setiap tahunnya melalui Anggaran Dana Desa, tapi para Guru PAUD enggan mempertanyakan hal itu kepada Kepala Desa karena mereka takut yang bersangkutan marah. (BS-028)

Berita Terkait

Peristiwa

Sidang Perdana Gugatan PT TSI Terhadap Bank Mandiri Digelar, Tergugat Tak Hadir di PN Medan

Peristiwa

CitraLand Tunjukkan Kepedulian Pendidikan Anak Bangsa, Bupati Deliserdang Targetkan 2028 Tak Ada Lagi Sekolah Sore

Peristiwa

SSB Tunas Muda U-9 Raih Juara III

Peristiwa

AI Bisa Membuat Gambar, Namun Hanya Manusia yang Bisa Menciptakan Makna

Peristiwa

Pameran Foto Bencana Prahara Pulau Emas Jadi Ruang Diskusi Mitigasi Bencana

Peristiwa

Changan Deepal S05 dan Nevo Q05 Hadir di Medan, Andalkan Pilihan SUV Elektrifikasi