Medan, (beritasumut.com)
Selama alas hukum relokasi pedagang buku Lapangan Merdeka berupa Surat Keputusan Walikota belum jelas, seluruh pedagang akan tetap bertahan dan tidak akan meninggalkan lokasi sebelum adanya kesepakatan yang jelas.
Sementara itu, petugas sekurii yang melakukan pengawasan terhadap pengerjaan untuk meratakan lahan sebagai pendukung pembangunan Sky Bridge di kawasan Lapangan Merdeka, melarang wartawan memfoto lahan yang sudah dibongkar pihak pemborong dengan alat berat itu.
“Mohon maaf, kami tidak akan melangkah meninggalkan lahan kami di sini selama alas hukum relokasi pedagang buku belum ada kejelasan," kata Ketua Harian Asosiasi Pedagang Buku Lapangan Merdeka (Aspeblam) Donald C Siboro yang ditemui wartawan di sekitaran kios pedagang buku Lapangan Merdeka, Selasa (30/10/2012) siang.
Donald mengakui, pedagang buku mempunyai kekuatan, jadi Pemko Medan jangan meremehkan pedagang. "Kalau ruang komunikasi disumbat dan tidak adil, kami akan terus bergerak. Tidak ada langkah mundur sekalipun, dan kami siap terus maju," ujarnya.
Dikatakannya, kalau Pemko Medan bersifat adil kepada pedagang, Donald menyakinkan pedagang akan proaktif untuk melakukan kerjasama dalam segi pembangunan. "Kami kemari bukan atas kemauan kami, tetapi kemauan Pemko. Jadi, kalau mau direlokasi harus ada alas hukumnya yang jelas," cetusnya.
Dia berharap, relokasi pedagang buku ke Jalan Pegadaian untuk yang terakhir. Jangan nantinya ke depan, alasan pembangunan membuat pedagang buku yang sudah menempati lahan di Jalan Pegadaian semakin terpinggirkan. "Kami harap, jangan ada lagi alasan pembangunan untuk merelokasi pedagang yang nantinya kami disingkirkan ke lahan yang terpinggirkan. Apabila nantinya lahan pedagang buku ini (Lapangan Merdeka) dijadikan lahan bisnis seperti kafe tempat jualan, kami akan ribut," ujarnya.
Menurutnya, ajakan Pemko untuk mempertemukan perwakilan pedagang dengan Pemko dalam rapat sosialisasi alas hukum relokasi pedagang buku Lapangan Merdeka pada Senin (29/10/2012) kemarin, hanya bentuk spontan setelah pedagang buku melakukan aksi unjukrasa.
Apalagi lanjutnya, pedagang masih emosi atas sikap pihak pemborong yang menutup pintu masuk blok II lokasi pedagang buku. Itulah yang menjadi puncak kemarahan pedagang, yang sudah tidak dihargai lagi oleh Pemko Medan. "Kami sudah siap dengan seluruh resiko. Padahal pedagang kehilangan omzet sebesar Rp200 juta perharinya, akibat menggelar aksi semalam," ujarnya.
Dalam pembangunan kios di Jalan Pegadaian, lanjutnya, perwakilan pedagang harus dilibatkan untuk mengantisipasi barang dagangan agar tidak rusak dengan memperhatikan bahan yang digunakan. "Kami harus dilibatkan, guna mengetahui bahan bangunan yang digunakan. Apakah bahan tersebut bisa dipakai untuk melindungi barang dagangan kami yang rentan rusak kalau tidak diawasi dari air, rayap dan api. Jadi, kami bukan menentang proyek nasional, makanya kami setuju direlokasi. Tetapi bukan berarti pedagang buku tidak diperhatikan, kami harus disejahterahkan. Karena intinya, kami tidak ingin dirugikan," paparnya.
Sementara itu, pengerjaan proyek dengan meratakan lahan untuk pembangunan pondasi sky bridge yang merusak seluruh area di kawasan Lapangan Merdeka seperti sarana olahraga dan taman disekitarnya masih terus dikerjakan. Seluruh area tersebut dipagari seng untuk menutupi lahan yang dalam pengerjaan.
Ketika wartawan mencoba mengambil gambar dengan memfotonya, pihak sekuriti langsung melarang wartawan dengan mempertanyakan izin. Padahal, lokasi tersebut merupakan tempat umum. "Disini tak boleh mengambil foto, tanpa ada izin dari pimpinan. Hapus foto itu," ucap petugas sekuriti yang mengenakan pakaian berwarna biru.
Pria yang tidak diketahui namanya itu, dengan ciri-ciri kepala plontos juga mengusir wartawan keluar dari area yang sedang dalam pengerjaan. Dia meminta agar seluruh foto yang sudah diabadikan wartawan untuk segera dihapus. "Hapus itu fotonya, jangan sesuka hatinya saja mengambil foto disini," ungkapnya sembari mendorong wartawan keluar dari area tersebut.
Sementara itu, Walikota Medan Rahudman Harahap berjanji dalam minggu ini kios pedagang buku di Jalan Pegadaian akan dibangun karena proses tendernya sudah selesai dilakukan."Minggu ini akan dibangun," ucapnya singkat.
Pantauan wartawan di Jalan Pegadaian, rencana pembangunan itu belum juga dilakukan oleh pihak Pemko Medan. Masih banyak kios pedagang dan tempat pembuangan sampah yang masih berdiri tegak tanpa adanya dilakukan penertiban sebagai penataan.
Salah seorang pedagang mengaku, belum ada menerima pemberitahuan dari pihak manapun untuk lahan yang digunakan mereka akan dipakai untuk relokasi pedagang buku Lapangan Merdeka. "Belum ada kita dibertahukan untuk pindah dari lahan ini. Makanya kita santai saja, tetap bertahan untuk jualan," jelas pedagang yang meminta namanya tidak disebutkan itu. (BS-024)