Panyabungan, (beritasumut.com)
Curah hujan yang tinggi dalam sepekan terakhir mengakibatkan ratusan hektar padi masyarakat siap panen di Desa Huraba, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terendam banjir akibat meluapnya dua sungai di sekitar persawahan yakni Sungai Batang Angkola dan Batang Gadis.
Dari pengakuan beberapa petani, padi mereka sudah terendam sejak dua hari lalu, sehingga dikhawatirkan akan berpengaruh kepada hasil panen masyarakat.
Akibat terendam, sejumlah masyarakat terpaksa melakukan panen dini walau hasilnya tidak memadai. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi busuknya padi yang sudah menguning. Bahkan banyak di antara petani diperkirakan gagal panen akibat padi mereka belum bisa dilakukan panen dini.
“Kita terpaksa melakukan panen dini, karena khawatir padi akan membusuk akibat terendam banjir,†ujar Mangaraja (45) salah seorang petani di Desa Huraba, Selasa (23/10/2012).
Mangaraja mengakui, padi yang terendam sudah menguning namun masih ada sebagian yang belum bisa dipanen. Namun akibat terendam masyarakat terpaksa melakukan panen dini.
“Memang kalau kita melakukan panen dini seperti ini hasil yang kita dapat tidak seberapa, namun daripada padi yang sudah menguning busuk, terpaksa kita panen,†katanya.
Menurut petani, cuaca ekstrem membuat perkiraan petani meleset sehingga panen pada musim panen kali ini tidak sesuai yang diharapkan.
“Pada musim yang lewat mudah-mudahan masih lumayan hasil yang kita dapatkan, namun pada musim panen kali ini kita khawatir modal yang kita keluarkan saja tidak bisa kembali,†tambahnya.
Hal senada disampaikan Somad, salah seorang petani lainnya. Somad mengaku kecewa dengan kondisi banjir yang merendam seperempat hektar sawah miliknya. Diperkirakan padi yang ia tanam kurang dari tiga pekan lagi bisa dipanen.
Namun, malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Apa yang diangankannya untuk bisa menikmati beras baru dari hasil panen, tinggal angan-angan saja.
Dia berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal. Karena, banyak sudah biaya dan waktu yang ia habiskan untuk membuka lahan, menanam dan merawat padi yang saat ini direndam banjir.
“Kalau bisa dibantu pemerintah, terserah bentuknya seperti apa, karena kami sudah banyak keluar modal untuk menanam padi. Sebenarnya lumayan hasilnya jika tidak terendam banjir, dan direncanakan hasilnya buat makan dan menyekolahkan anak,†ujar ayah 6 anak tersebut.
Ditanya jenis bantuan yang diinginkan, ia menyebutkan jika ada anggaran tentunya biaya untuk menyiapkan lahan, benih dan biaya perawatan padi untuk musim yang akan datang. Karena, petani sudah tidak punya modal lagi untuk menggarap sawah jika air sudah surut. (BS-026)