beritasumut.com - Sehubungan dengan berita tentang peristiwa menyedihkan akibat longsor di kawasan bendungan pembangkit listrik tenaga air Batang Toru, yang bermasalah, yang mengakibatkan setidaknya 13 orang tewas atau dinyatakan hilang, Direktur Kampanye Mighty Earth Amanda Hurowitz membuat pernyataan berikut:“Bersama ini, kami menyatakan rasa duka mendalam terhadap keluarga korban tewas atau luka akibat bencana menyedihkan itu, baik penduduk setempat maupun pekerja dari Cina, yang berada jauh dari kampung halaman mereka. Kami mengimbau PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) dan pejabat pemerintah di semua tingkatan memberikan bantuan dan dukungan secepatnya kepada yang terdampak serta mengambil tindakan untuk mencegah kerusakan dan bahaya lebih jauh.“Sangat disayangkan bahwa bencana itu sebenarnya dapat dicegah. Ilmuwan, pejuang lingkungan, dan bahkan berbagai laporan yang diterima Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Indonesia telah memperingatkan bahwa medan di sekitar proyek bendungan Batang Toru rawan longsor karena curah hujan tinggi, medan berbukit-bukit serta drainase buruk. Proyek itu juga terletak tidak jauh dari garis patahan bumi, di kawasan rawan gempa dan sedang dibangun, tampaknya tanpa rencana memadai untuk mengurangi dampak kegiatan pembangunan di kawasan rawan tersebut. Bahkan, pada lima bulan lalu, longsor menewaskan seorang pekerja Cina. Peristiwa itu sebenarnya adalah peringatan akan tragedi pada hari ini.
Baca Juga : Tinjau Lokasi Longsor di Kawasan PLTA Batangtoru, Gubernur Sumut Ingatkan Evakuasi Korban Secara Optimal dan Terpadu “Mitra kami, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), telah mengajukan gugatan hukum terhadap proyek tersebut di pengadilan Indonesia. Dalam gugatannya, WALHI menyatakan bahwa analisis mengenai dampak lingkungan, yang dilakukan NSHE, tidak memperhitungkan spesies langka yang terancam punah, komunitas hilir, dan potensi bencana ekologis. Selain itu, WAHLI juga menuntut pembangunan di kawasan penting secara ekologis namun memiliki acaman besar bencana itu dihentikan,†ujarnya. [br] Roy Lumban Gaol, Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumatera Utara, mengatakan, kejadian ini hanyalah contoh lain mengapa proyek merusak ini harus segera dihentikan untuk selamanya. "Pengembangan berikut kawasan tersebut harus ditangguhkan. Pemerintah Indonesia harus menunda AMDAL untuk proyek tersebut dan segera meninjau ulang kelangsungan proyek itu terkait risiko terhadap keselamatan pekerja, integritas struktural terkait dengan risiko banjir dan gempa, serta ancaman eksistensial pembangunan bendungan itu terhadap keragaman hayati, termasuk orangutan Tapanuli, jenis kera besar paling terancam punah di dunia,†sebutnya.(rel)