Beritasumut.com-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba Samosir (Tobasa) melalui Dinas Pertanian dan Perikanan cepat tanggap dengan maraknya kematian ternak babi di beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) beberapa bulan terakhir ini yang telah mengkwatirkan, meresahkan dan merugikan masyarakat khususnya peternak dan pedagang ternak babi. Sementara Kasus kematian ternak babi yang terjadi di Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Medan, Deli Serdang, Karo, Tapanuli Utara, telah mencapai 1.417 ekor pada awal bulan Oktober 2019, demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian, dan Perikanan yang diwakili Kepala Bidang Peternakan Robert Aruan. Robert menyebutkan, kasus kematian ternak sudah terjadi di Kecamatan Silaen Kabupaten Tobasa. Dan sampai saat ini jumlah kematian ternak babi telah mencapai 278 ekor, dan masih banyak lagi dalam kondisi sakit."Kondisi terakhir kasus kematian ternak babi telah terjadi di Kecamatan Tampahan sebanyak 6 ekor dan Kecamatan Balige 14 ekor," sebutnya dilansir dari laman tobasamosirkab.go.id, Minggu (27/10/2019). Robert Juga menjelaskan bahwa Penyakit ini disebabkan oleh virus yang mudah menular melalui kontak langsung dengan babi yang sakit, ekskresi dan sekresi hewan/fases, urine dan semen pejantan. Sedangkan melalui kontak tidak langsung yaitu melalui produk olahan babi, orang yang kontak dengan babi sakit, peralatan kandang, mobil angkutan ternak yang terkontaminasi (Swill feeding). Sedangkan tanda klinis hewan ternak babi yang sakit, menurut Kabid Robert kepada MC Tobasa menjelaskan, bahwa ternak babi mati mendadak tanpa gejala klinis, demam tinggi, tidak mau makan, lemas, gemetar, hyperemia sianosis pada telinga, punggung, kaki, tidak mampu berdiri ,dan kejang.Lanjut Robert, mortalitas/tingkat kematian bisa mencapai 100%, sementara masa inkubasi 5 sampai 15 hari, dan bila ternak babi sudah terserang tingkat kesembuhan sangat kecil. Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Toba Darwin Sianipar menjelaskan, terkait dengan peristiwa tersebut, dia menghimbau kepada masyawakat untuk menghindari mengonsumsi makanan olahan daging babi yang bercampur darah dan bagian dalam dari ternak babi seperti sangsang, panggang dan tanggo-tanggo. "Baik yang di menu pesta adat maupun dikonsumsi keluarga. Jika harus memakannya dianjurkan agar memasak daging tersebut dengan suhu minimal 100°C atau memasaknya selama 30 menit.Ini disebabkan karena virus ASF dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan dan beberapa tahun dalam daging babi beku," ujarnya. Kemudian, lanjutnya, menghindari makanan atau produk olahan daging babi yang di import seperti Sosis, meat ball, meat slice dan produk kaleng lainnya."Waspada ketika membeli daging babi di pasar tradisional. Jika tidak meyakinkan jangan dibeli dan jika harus dibeli maka daging tersebut di memasak selama 30 menit dalam suhu 100°C," tegasnya. Darwin juga menghimbau untuk melakukan penyemprotan kandang hingga 100 m sekitar kandang minimal setiap 2 kali seminggu dengan desinfektan (pembasmi hama), dan dapat juga menggunakan air detergen.(BS09)