Beritasumut.com-Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara kembali meletus pada Jumat (06/04/2018) sore sekira pukul 16.07 Wib. Letusan melontarkan abu vulkanik dan material piroklastik dengan tekanan kuat berwarna abu-abu gelap hingga setinggi 5.000 meter. Letusan juga disertai awan panas sejauh 3.500 meter ke arah Tenggara-Timur dan Selatan-Tenggara. Hingga kini, Gunung Sinabung masih menyimpan misteri, yaitu kapan gunung api ini akan berhenti meletus. Secara ilmiah, fenomena letusan menerus Sinabung setelah lama tertidur tersebut ada hubungannya dengan rentetan gempa besar yang terjadi di zona subduksi di sekitar Pulau Sumatera. Peneliti Matteo Lupi dan Stephen Miller dalam penelitiannya di Jurnal Solid Earth menyimpulkan bahwa gempa-gempa yang terjadi di Sumatera, yaitu Aceh 2004, Nias 2005, dan Mentawai 2010 telah memicu gempa lain di Sumatera daratan. Akibatnya tegangan (stress) yang selama ini menekan dan menyungkup dapur magma Sinabung melemah. Pelemahan pada selubung dapur magma ini menyebabkan magma bermigrasi ke atas melewati retakan-retakan baru yang terbentuk hingga akhirnya meletus. "Sebuah gunung akan berhenti meletus apabila tekanan magma sudah tidak sanggup lagi mendorong magma keluar ke permukaan bumi. Di Gunung Sinabung, masih ada tekanan magma ini, terbukti dari adanya gempa-gempa vulkanik dalam dan dangkal di sekitar gunung serta letusan-letusan yang terus terjadi," papar Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB. Fenomena inilah, kata Sutopo, yang menjelaskan kenapa Gunung Sinabung terus meletus sejak 2010 dan tak juga kunjung berhenti. Hal ini terjadi karena Sinabung sedang mencari keseimbangan baru, sehingga sangat sulit diprediksi kapan erupsi tersebut akan berakhir. Di tahun ini, pada 19 Februari 2018, kembali Sinabung meletus besar. Dengan Sinabung yang terus-menerus meletus dan belum bisa diprediksi kapan akan berakhir, maka upaya penanggulangan bencana, terutama proses RR di lokasi ini mengalami tantangan tersendiri. Pelaksanaan RR dilakukan bersamaan dan dalam masa tanggap darurat. Implikasinya, upaya RR juga harus memerhatikan kegiatan yang dilakukan pada masa darurat, yaitu pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih dan logistik bagi warga yang harus mengungsi karena bertempat tinggal di zona bahaya. Menyikapi misteri Sinabung tersebut di atas, maka ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Sinabung. BPBD dan instansi terkait agar terus melakukan penjagaan di pintu masuk menuju zona merah yang tidak boleh ada aktivitas sesuai dengan rekomendasi dari PVMBG. "BNPB dan BPBD agar selalu siap siaga untuk menanggulangi jika sewaku-waktu terjadi pengungsian karena Sinabung meletus besar. BNPB dan BPBD agar terus mengupayakan relokasi dan pemenuhan kebutuhan warga yang harus mengungsi karena tidak bisa kembali ke rumahnya. BPBD Kabupaten Karo juga agar terus melakukan sosialisasi ancaman sekunder dari Gunung Agung seperti banjir lahar hujan," pungkas Sutopo.(BS03)