Beritasumut.com-Sekretaris Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK), Padian Adi Siregar mengungkapkan jika kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya Pertalite menunjukkan Pemerintah sangat tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Dia menilai jika tersebut terkesan hanya mengejar keuntungan Pertamina sebagai sebagai operator, tanpa melakukan kajian sosiologis yang memastikan apakah kebijakan kenaikan harga BBM tepat dilakukan saat ini. "Kenaikan harga BBM terus dilakukan dalam periode yang cukup dekat tetapi kemudian pasokan BBM subsidi sengaja dibuat langka. Betapa tidak, dinilai sangat kejam menerapkan kebijakan harga BBM. Rakyat dipaksa untuk menggunakan BBM non-subsidi dengan harga yang secara periodik terus dinaikkan, tetapi tidak pernah mengalami penurunan harga di saat harga minyak dunia turun," ujar Abdi dalam siaran persnya, Senin (26/03/2018). Lebih jauh Abdi mengatakan, selama 2 tahun terakhir, kebijakan Pemerintah dalam menerapkan harga BBM sangat tidak terbuka dan tidak berjiwa besar. Bagaimana tidak, harga BBM subsidi jenis Premium sengaja dibuat langka, sementara jenis BBM non-subsidi seperti Pertalite dan Pertamax karena tidak mengharuskan adanya persetujuan DPR dalam menaikkan atau menurunkan harga sengaja disediakan pasokannya mencukupi bahkan di beberapa SPBU diperbanyak pompanya menggantikan pompa premium. "Harapan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan lebih baik pada pemerintah terbukti sia-sia. Pemerintah justru menaikkan harga BBM tanpa empati, tidak memperhatikan masyarakat dan daya beli konsumen," jelasnya. Pemerintah dinilai menjadikan harga minyak mentah dunia sebagai alasan menaikkan harga BBM hanya kamuflase saja. Kenaikan harga BBM dituding karena faktor nilai rupiah yang ambruk hingga ke level 13.000 per dolar AS. Pemerintah belum transparan, jika subsidi energi dicabut. "Apa kompensasi atas pencabutan subsidi BBM? Dialokasikan kemana? Untuk apa? Buktikan dengan kebijakan konkret dan terukur. Dikhawatirkan kenaikan harga BBM cuma untuk membayar selisih kurs karena pelemahan kurs rupiah," pungkasnya.(BS03)