Masyarakat Hindu Medan Maknai Nyepi Secara Personal

Herman - Minggu, 18 Maret 2018 17:50 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir032018/7818_Masyarakat-Hindu-Medan-Maknai-Nyepi-Secara-Personal.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ist
Beritasumut.com-Sebagai kota heterogen yang memiliki tingkat keberagaman tinggi, perayaan nyepi di Kota Medan tentu dirasakan akan sangat berbeda ketimbang merayakannya secara langsung di Pulau Dewata Bali.

 

Sebab, secara spesifik Kota Medan memiliki iklim sosial-budaya yang berbeda, karena terdapat etnis dan agama yang beragam.

 

Kendati begitu, Ketua Masyarakat Hindu Dhirgayusa Medan, Wayan Dhirgayasa mengatakan, situasi ini tak menghalangi kekhidmatan warga Hindu di Medan untuk merayakan hari sucinya itu. Hanya saja, hari raya nyepi di Medan lebih dimaknai sebagai ritual yang personal ketimbang komunal.

 

"Memang pada prinsipnya, nyepi itu hal yang pribadi. Tapi karena di Bali suatu kampung, desa, bahkan provinsi bisa merayakannya secara kolektif, nyepi biasanya akan benar-benar sunyi senyap. Tapi kalau disini kan tidak bisa, jadi kita menghargainya," ungkapnya, disela-sela ritual upacara penyambutan hari raya nyepi tahun baru saka 1940, di Pura Agung Raksa Buana, Jalan Polonia Medan, Jumat (16/03/2018).

 

Sebab, Wayan menjelaskan, dalam agama Hindu itu ada menganut suatu konsep yang disebut deso kolo patro. Deso/desa itu kata dia adalah tempat, kolo/kala ialah waktu, dan patro/patra adalah situasi.

 

"Artinya, dimanapun tempat kita melaksanakan, akan sesuai waktu dan situasi yang ada. Kondisi Sumut ini kan nggak seperti Bali, atau daerah lain yang memang penduduknya mayoritas warga Bali atau Hindu. Jadi hari raya nyepi kita sesuaikan dengan daerah setempat," jelasnya.

 

Dengan itu, lanjut Wayan, warga Hindu di Medan bakal menciptakan situasi keheningan tapo brato penyepiannya dirumah mereka masing-masing bersama keluarga. Tapi sebelum ritual itu dilakukan, upacara penyambutannya difokuskan di Pura Agung Raksa Buana tersebut. "Jadi esensinya nyepi ini akan tetap dapat. Karena masyarakat menganut desa kolo patro itu," sebutnya.

 

Dalam upacara penyambutan hari raya nyepi ini, Wayan menerangkan, pertama-tama ritual yang dilakukan adalah melasti, yakni upacara pembersihan alam. Lalu dilanjutkan dengan upacara mecaro berupa pengorbanan suci terhadap alam semesta untuk kebersihan alam.

 

"Berikutnya dilakukan persembayangan tilem. Sebagai penutup dilakukan sembayang saraswati hingga tengah malam. Baru tapo brato penyepian dilakukan selama 24 jam kedepan," terangnya.

 

Wayan juga menuturkan, tapo brato penyepian itu jumlahnya ada empat. Pertama ialah catur brato penyepian yakni tidak boleh membunyikan bunyi-bunyian yang sifatnya hiburan, lalu tidak boleh bepergian, selanjutnya tidak boleh bekerja, dan kemudian tidak boleh menyalakan api maupun listrik/lampu, sehingga dapat benar-benar sunyi senyap.

 

"Namun kalau terkait nyepi kali ini,  juga berdekatan dengan hari raya saraswati dan juga pilkada. Jadi kita menghimbau kepada warga Hindu supaya bisa tetap menjaga esensi keagamaan dan loyalitasnya, dan juga kepercayaan pada Tuhan yang maha Esa," pungkasnya.(BS06)


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Perayaan Ganesh Chaturthi Berlangsung Semarak, Cermin Medan Kota Majemuk

Peristiwa

Walikota Medan Sampaikan Ucapan Selamat Hari Diwali Bagi Masyarakat Kota Medan Yang Merayakan

Peristiwa

Buka Lokasabha IV PHDI Kota Medan, Walikota Medan Berharap Lahir Program untuk Kemajuan Umat Hindu

Peristiwa

Presiden Jokowi Terima Kunjungan PP KMHDI di Istana Merdeka

Peristiwa

Walikota Pematang Siantar Kagum dan Bahagia Hadiri Perayaan Maha Thriruvilla Bersama Umat Hindu

Peristiwa

Walikota Medan Inginkan Perayaan Keagamaan dan Kebudayaan Sejalan dengan Pergerakan Perekonomian