Beritasumut.com-PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo 1 saat ini mengaku tetap fokus dalam menjalankan program Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung untuk mewujudkan Kuala Tanjung sebagai Pelabuhan Hub Internasional sebagaimana yang diharapkan pemerintah. ACS Humas Pelindo 1 Fiona Sari mengatakan, saat ini progres pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung sudah mencapai 92% untuk sisi laut dan 71% untuk sisi darat. "Pelabuhan Kuala Tanjung ini akan dikembangkan dalam 4 tahap, yaitu tahap I Pengembangan Terminal Multipurpose Kuala Tanjung yang disiapkan dengan kapasitas 500 ribu TEUs, tahap II Pengembangan Kawasan Industri 3000 Ha (2016-2018), tahap III Pengembangan Dedicated/Hub Port (2017-2019) dan Tahap IV pengembangan kawasan industri terintegrasi (2021-2023)," ujarnya melalui siaran persnya, Senin (20/11/2017). Pelabuhan Kuala Tanjung, sambung Fiona, diproyeksikan akan menjadi pelabuhan terbesar dan menjalin hubungan internasional di kawasan barat Indonesia ini dikembangkan secara bertahap dan nantinya akan memiliki kapasitas hingga mencapai 20 juta TEUs. Pengelola Terminal Multipurpose Pelabuhan Kuala Tanjung dilaksanakan oleh PT Prima Multi Terminal yang merupakan anak usaha gabungan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang meliputi Pelindo 1, PT PP Tbk, dan PT Waskita Karya Tbk. "Saat ini tercatat Pelindo 1 menguasai saham mayoritas di PT Prima Multi Terminal sebesar 55%, PT PP memegang 25%, sedangkan PT Waskita Karya memiliki sisanya yaitu 20%," sambungnya. ACS Humas Pelindo 1 menambahkan bahwa untuk mewujudkan terminal multipurpose di Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelindo 1 juga sedang menyiapkan kawasan industri yang terpadu atau Industrial Gateway Port Kuala Tanjung seluas 3.000 hektar. “Pelabuhan Kuala Tanjung ini direncanakan juga dengan pengembangan kawasan industri yang dapat semakin menurunkan biaya logistik serta berpeluang untuk menciptakan skala ekonomi. Diharapkan dengan adanya Pelabuhan Kuala Tanjung mampu meningkatkan kinerja logistik dan daya saing Indonesia sehingga bisa berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi,” pungkas Fiona. (Rel)