Beritasumut.com-Parah. Itulah ungkapan yang pas terhadap budaya tertib berlalulintas warga di Sumatera Utara (Sumut). Itu dibuktikan dengan banyaknya pengendara baik roda dua maupun roda empat yang kena tilang polisi pada hari pertama Operasi Zebra Toba 2017, Rabu (01/11/2017) kemain. Data dilansir Polda Sumut (Poldasu), tak tanggung-tanggung, 1.844 set tilang dilayangkan disertai penyitaan kendaraan. Ditambah lagi 328 set teguran 328. Angka pelanggaran ini meningkat sekitar 63-75 persen dari tahun sebelumnya. Tak cuma tilang, jumlah SIM (Surat Izin Mengemudi) dan STNK yang disita juga tak kalah banyak. Tercatat 677 lembar SIM disita dan 968 lembar Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) serta 199 unit kendaraan 199 unit. Angka ini naik 17-19 persen dari tahun sebelumnya. "Untuk jenis kendaraan yang terlibat pelanggaran, paling banyak masih tetap sepeda motor yakni 1.401 unit. Disusul mobil penumpang 235 unit, mobil barang 156 unit, bus 50 unit dan dua unit kendaraan khusus," Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Rina Sari Ginting Kamis (02/11/2017). Sementara jumlah kecelakaan lalulintas sebanyak 2 peristiwa. Dari 2 peristiwa, ada 1 orang jadi korban dan kerugian materil sebanyak Rp40 juta. Rina mengatakan, sebelumnya pihaknya telah menyuluh dan melatih keselamatan berkendara bagi masyarakat. Di antaranya penyuluhan 72 kali, penyebaran dan pemasangan informasi 394 kali, program keamanan lantas 32 kali, program keselamatan lantas 137 kali, pengaturan lalulintas 402 kali, penjagaan lalulintas 200 kali dan patroli lalulintas 202 kali. "Semuanya dikerjakan dengan baik,” jelasnya. Operasi Zebra ini semakin relevan jika dikaitkan dengan Data Korps Lalulintas Polri yang menyebut, angka kecelakaan lalu lintas sebanyak 105.374 kejadian dengan 22.939 jiwa tewas, atau rata-rata 3 orang meninggal setiap jam (data 2016). Dilihat dari segi usia, korban didominasi usia 15-19 tahun (sebanyak 29.654 jiwa). Sementara itu, 36.541 orang (44,27 persen) pelaku kecelakaan lalu lintas tidak memiliki SIM. Terbanyak pelanggar lalulintas adalah anak muda atau pelajar. "Mereka memang bisa berkendara tapi secara mental, psikologis belum cukup dewasa untuk berinteraksi di jalanan. Sehingga menyebabkan banyak kecelakaan," ungkap Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Royke Lumowa di Medan beberapa waktu lalu.(BS04)