Beritasumut.com-Salah satu dari tiga program kerja 6 komite Dewan Kesenian Medan (DKM) yang telah dikukuhkan Walikota Medan pada Juni 2016 lalu, adalah study banding. Kegiatan study banding ini sudah dilaksanakan oleh beberapa komite lainnya yang didampingi Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota (Pemko) Medan, selaku PPATK.
Pada Selasa (12/09/2017), giliran Komite Sastra bersama 3 PPATK Disbud Pemko Medan melaksanakan program Study Bandingnya ke Sleman, Yogyakarta.Rombongan Komite Sastra yang dipimpin Bambang Sumantri selaku ketua, anggota DKM lainnya Juhendri Chaniago dan Sakinah Annisa Mariz, ikut serta merambah Sanggar, komunitas-komunitas literasi, hingga menjalin bisnis penerbitan buku-buku di Yogyakarta.
"Kegiatan ini kita lakukan untuk bercermin pada geliat kesusasteraan daerah lain. Kita tahu di Yogyakarta industri perbukuan, sastra, dan pagelaran budaya 'hidup' dan bisa 'menghidupi' pelaku seninya. Hal-hal tersebut perlu kita pelajari dalam rangka membangkitkan iklim kesusasteraan di Medan dan melaksanakan program-program selanjutnya," ujar Ketua Komite Sastra saat silaturahmi ke Studio Pertunjukan Sastra (SPS) di Sumber Kulon, RT 03, RW 30, Gang Warmindo No 36 Desa Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Study banding yang dilakukan Komite Sastra DKM di hari pertama ini disambut hangat oleh para sastrawan di Sleman. Salah satu kantong kesenian dan literasi di Sleman, SPS membuka diri dan berbagi strategi dalam menyikapi problematika iklim kesusasteraan di Medan. SPS sendiri merupakan studio tempat berkumpulnya berbagai pelaku seni dan sastrawan dengan latar belakang komunitas masing-masing yang bersatu dan saling berinteraksi membangun iklim kesenian dan literasi di Yogyakarta. "SPS sudah berdiri sejak tahun 2000 dan di tahun 2005 SPS mulai mengagas program Bincang-Bincang Sastra, yang digelar setiap bulannya dan bulan ini sudah merayakan edisi ke 148. SPS dipimpin oleh Kyai Musthofa W Hasyim yang beranggotakan teman-teman dari berbagai komunitas dan lembaga seni, seperti Balai Bahasa Yogyakarta, Dewan Kesenian, Sanggar Kampus, Pesantren, Penerbit Indie, dan lain-lain. Keberagaman latar belakang inilah yang kemudian mengembangkan iklim berkarya dan bergotong-royong membangun kesusasteraan di Yogya," sahut Cak Kandar, yang menjadi perantara kunjungan DKM ini. Senada dengan itu, sastrawan senior Iman Budhi Santosa mengatakan bahwa adakalanya komunitas di Yogyakarta menjadi alat politik bagi sejumlah teman untuk mencapai sesuatu. Karena itu, di SPS pihaknya berupaya mengembangkan semangat berkesenian dengan ideologi komunalisme kreatif. "Di mana kita berproses bersama-sama untuk menghasilkan pokok-pokok pikiran dan karya-karya kreatif. Perlu diingat, yang menjadi darah daging semaraknya iklim berkesenian di Jogja bukanlah pendekatan, tapi kedekatan yang terus dibangun. Seperti halnya teori minta maaf saat lebaran, apakah ketika meminta maaf itu kesalahan kita terhapus? Tidak! Namun apa yang terlahir adalah padangan positivisme, bahwa nilai-nilai positif itu membangun kesadaran yang positif juga," tegasnya. (BS02)