Beritasumut.com-Kerukunan antar umat beragama menarik perhatian seluruh elemen bangsa, tak terkecuali aktifis pemuda dan mahasiswa. Salah satunya, tokoh Mahasiswa asal Tanjungbalai Abdul Razak Nasution. Pendiri Ikatan Pemuda dan Mahasiswa (IPMA) Tanjungbalai ini mengingatkan kembali perlunya menjaga kerukunan antar umat beragama di kota kerang tersebut. Hal ini dikatakannya, dalam momentum setahun peristiwa pembakaran rumah ibadah Vihara dan kelenteng dalam kerusuhan bernuansa SARA, akhir Juli tahun lalu. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam aksi tersebut, namun sangat disayangkan apabila hal serupa masih berpotensi terjadi kembali di Indonesia. "Dimanakah letak semboyan Bhineka Tunggal Ika? Apabila sedikit perbedaan saja dapat menyebabkan bentrokan," ujar Abdul Razak Nasution, dalam bincang-bincangnya dengan sejumlah aktifis muda asal Kota Tanjungbalai, tadi malam, Senin (28/8/2017). Menurut Razak yang juga Wakil Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) Sumut ini, kerusuhan bernuansa SARA sudah sering terjadi di Indonesia, hampir setiap tahun selalu ada kejadian serupa dengan motif yang hampir sama. "Kita memandang bahwa hal tersebut terjadi karena sudah berkurangnya toleransi antar umat beragama, yang menyebabkan sedikit saja gesekan antar umat beragama, dapat berpotensi menyebabkan konflik," ungkapnya. Di luar itu, ada kelompok-kelompok tertentu yang memang sengaja untuk memicu konflik, baik melalui masifnya hoax di media sosial dengan memanfaatkan tindaka arogansi oknum-oknum pemeluk agama tertentu terhadap pemeluk agama lainnya. "Seperti kita ketahui, kerusuhan di Tanjung Balai pada Jumat malam (29/07/2016) hingga Sabtu dinihari, dipicu oleh seorang wanita yang merasa terganggu dengan pengeras suara di masjid, sehingga muncul berbagai provokasi-provokasi di media sosial. Hal tersebut menyebabkan banyak warga yang geram dan melakukan pembakaran terhadap 10 rumah ibadah. Ini juga mengindikasikan bahwa masyarakat Tanjungbalai rentan diprovokasi," tambahnya. Untuk itu, Razak mengimbau agar semua elemen bergandengan tangan dan mengawal komunitas masing-masing. Dengan begitu percikan-percikan konflik dapat diminimalisir sejak dini. "Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa Meiliana, wanita yang memicu konflik tersebut sudah menjalani proses hukum dan diadili di Pengadilan, dan sebelumnya, dalam setiap kesempatan Meiliana terus menyampaikan permintaan maaf dan dirinya sadar bahwa perbuatannya telah mengganggu ketentraman di Tanjungbalai. Permintaan maaf itu selalu disampaikannya berulang-ulang," ujar Razak lagi. Razak juga mengapresiasi tindakan Walikota Tanjungbalai M. Syahrial SH MH., yang cepat merespon aspirasi umat dan meredam terjadinya konflik susulan dengan menurunkan patung di pinggiran sungai Asahan. Di akhir wawancaranya, tokoh mahasiswa asal kota Tanjungbalai ini mengharapkan elemen pemuda dan mahasiswa serta masyarakat umumnya, untuk tidak percaya begitu saja dengan isu-isu provokatif yang beredar di media sosial. "Masyarakat harus cerdas menyikapi isu-isu, khususnya isu yang berbau SARA, karena hal tersebut merupakan isu sensitif yang dapat dengan mudah menyulut sentimen dan biasanya berujung konflik. Tidak menutup kemungkinan bahwa isu tersebut sengaja disulut untuk memecah belah kerukunan antar umat beragama di Indonesia," pungkasnya.(BS03)