Beritasumut.com-Berdasarkan data World Health Organization (WHO), setiap tahunnya lebih dari 800 ribu orang meninggal dunia akibat bunuh diri. Bahkan dalam kurun waktu tahun 2017, jumlah percobaan bunuh diri mengalami peningkatan hingga lebih dari 25 kali lipat. "Sedangkan untuk Indonesia, data pada 2015 menunjukkan 5,6 persen siswa sekolah usia 13 hingga 17 tahun memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri," ujar Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) kepada wartawan, Senin (07/08/2017). Elmeida menjelaskan, berdasarkan klasifikasi gender, laki-laki disinyalir jauh lebih rentan melakukan bunuh diri. Hal itu disebabkan karena kaum Adam memiliki tanggung jawab sosial yang lebih berat ketimbang perempuan.Sementara pada kaum perempuan sendiri, ujar Elmeida, kasusnya lebih sering hanya melakukan percobaan bunuh diri. Sebab, perempuan umumnya tidak betul-betul ingin mati, melainkan hanya mencari perhatian. "Lelaki yang lebih banyak bunuh diri dibandingkan perempuan. Karena umumnya tertekan dengan tanggung jawab, namun jarang bercerita karena takut dibilang lemah ataupun cengeng," jelasnya. Bunuh diri, sambung Elmeida, sering diakibatkan rasa putus asa yang berlebihan. Tindakan ini juga dikaitkan dengan gangguan jiwa seperti depresi, gangguan bipolar, skizofrenia dan ketergantungan zat adiktif. Selanjutnya tambah dia, berbagai faktor menjadi penyebab seseorang menjadi stres. Antara lain dikarenakan masalah keuangan ataupun konflik dalam hubungan interpersonal."Peran sosial dan lingkungan turut berperan dalam meningkatkan risiko perilaku bunuh diri. Pencegahan perlu dilakukan dalam tujuan layanan kesehatan jiwa dengan target mengurangi angka bunuh diri sebesar 10 persen pada 2020," jelasnya. Menurut Elmeida, beberapa cara bisa dilakukan untuk mencegah keinginan seseorang melakukan bunuh diri. Di antaranya, jauhkan orang yang mulai mengalami stres dan perubahan sikap dari barang-barang berbahaya. Lalu berikan semangat, ajak berolahraga, libatkan keluarga serta guru untuk mengawasi dan ajak berkonsultasi ke psikiater atau psikolog."Jadilah teman bicara yang baik untuk mereka. Sediakan juga waktu luang dan cegah mereka menyendiri," sarannya. Oleh karena itu, Elmeida mengimbau, di Indonesia diperlukan usaha pencegahan dengan menumbuhkan kepedulian masyarakat. Khususnya mengedukasi remaja dalam isu kesehatan jiwa."Penelitian, pengembangan dan kampanye juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kepedulian tentang isu kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri di Indonesia," pungkasnya.(BS04)