20-20-20, Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami yang Dapat Jadi Acuan di Indonesia

- Sabtu, 05 Agustus 2017 23:15 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir082017/352_20-20-20--Mitigasi-Bencana-Gempa-Bumi-dan-Tsunami-yang-Dapat-Jadi-Acuan-di-Indonesia.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Beritasumut.com-Belajar dari hasil penelitian yang dipimpin oleh Prof Ronald Albert Harris dari Universitas Brigham Young University (BYU), beberapa gagasan mitigasi bencana gempabumi dan tsunami dapat menjadi acuan dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Penelitian tsunami purba di beberapa wilayah di Jawa dan pulau-pulau Sunda kecil, sebutan dari Prof. Ron Harris. Melihat dari hasil penelitian, Ron Harris menggagas jargon 20–20–20.   

 

Angka itu bukan sekedar angka yang kemudian muncul begitu saja. Namun angka ini berdasarkan kalkulasi saintifik yang memperhitung-kan durasi gempa yang terjadi, kecepatan tsunami dan wilayah evakuasi aman. Lalu apa itu 20–20–20? 20 detik gempa (5 km/detx200 det=100 km zona pecah), 20 menit evakuasi (tsunami velocity) dan 20 meter ketinggian (tsunami model menunjukkan 20 m gelombang run-up). Namun Ron menyampaikan bahwa gagasan terhadap pesan itu harus adaptable dengan konteks wilayah. 

 

“Mungkin saja di Ambon 20–10–20, atau di Bali 20–20–10,” papar Ron Harris dalam diskusi membahas mitigasi bencana gempabumi dan tsunami di Badan Meteorologi, Klimatoogi dan Geofisika (BMKG).

 

Masih dalam konteks mitigasi, Ron Harris menceritakan bahwa kelompok masyarakat di Waingapu, Sumba Timur, tidak mengetahui sejarah tsunami di wilayahnya. Dia menjelaskan memang hal itu dapat terjadi karena generasi yang hidup di wilayah itu ketika siklus gempa bumi dan tsunami yang ‘tidur’. 

 

Ron menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian selama ini, yang menunjukkan siklus tidur-bangun-tidur, dan mungkin bangun pada periode selanjutnya. Atau, masyarakat di Bali yang tidak mengetahui bahwa mereka hidup di bekas endapan tsunami purba. Sang profesor mengingatkan mungkin selama ini sebagian besar masyarakat menandai tsunami pascagempabumi besar, padahal gempa yang tidak terasa besar namun berdurasi lama dapat menyebabkan tsunami mematikan.

 

Menyikapi hasil penelitian Ron Haris dan tim dari BYU, UPN Veteran, Universitas Utah Valley (UVU), mereka selalu mempresentasikan di hadapan pemerintah daerah setempat. Menurutnya hasil penelitian tidak hanya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, namun sangat penting hasil tersebut dikomunikasikan kepada publik. 

 

Apa yang dipaparkan oleh Ron Harris mendapatkan apresiasi tinggi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Kesiapsiagaan BNPB Medi Herlianto pada diskusi yang juga memaparkan hasil penelitian BMKG mengenai paleo tsunami. Saat ini, Indonesia telah memiliki masterplan tsunami namun demikian hasil penelitian yang menghasilkan rekomendasi dapat memperbarui strategi-strategi dalam menghadapi ancaman yang lebih besar.  

 

“Ini sangat penting untuk menyampaikan hasil penelitian kepada pemerintah sehingga nantinya akan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi berharga,” pungkas Medi.(Rel)

 


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Resmikan Desa Siaga Bencana, PLN UID Sumut Serah Terima Bantuan Program

Peristiwa

Sarana Air Bersih dan 1.577 Tabung Bright Gas Disalurkan ke Warga Terdampak Bencana di Pidie Jaya

Peristiwa

Bank Sumut Rayakan Natal: Semangat Kasih Perkuat Empati Sosial, Etos Kerja, dan Persaudaraan

Peristiwa

Peduli Korban Banjir Bandang, Anindya Bakrie Salurkan Bantuan Kadin ke Aceh, Sumut, dan Sumbar

Peristiwa

KADIN Medan dan WALUBI Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir, Arman Chandra: Bentuk Kepedulian Pengusaha

Peristiwa

Pemerintah Gerak Cepat Tangani Banjir di Beberapa Wilayah