Beritasumut.com-Penggagas Gerakan Bangga Medan, Abdullah Rasyid mengaku sedih melihat keadaan Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang makin hari makin kehilangan identitasnya. "Dua hari lalu, saya dan beberapa teman berkesempatan ‘pulang’ ke Medan. Aktivitas rutin selain tugas bisnis, tentu kembali keliling Medan menikmati wisata kuliner yang tidak boleh ditinggalkan, karena di Medan cuma ada 2 jenis makanan. Pertama, enak, kedua enak kali. Ada yang cukup memperihatinkan ketika berkeliling Kota Medan. Kami mendapati satu persatu bangunan dan situs khas Kota Medan mulai dihilangkan, dirobohkan, diganti atau bahkan dihancurkan," ujar Abdullah kepada wartawan, Sabtu (22/07/2017) sore. Abdullah menyebutkan, gedung-gedung kuno di seputaran Kesawan, mulai berganti rumah dan toko alias ruko. Gedung Balaikota yang terlihat kental arsitektur Eropa dan menjadi kebanggaan Kota Medan, sekarang hanya sekadar menjadi Fasad Hotel Aston. Kemudian, Villa Kembar peninggalan Belanda di Jalan Pangeran Diponegoro pun sudah hilang dan menjelma menjadi Hotel Adimulia. Serta yang lebih memprihatinkan, di dekat bangunan khas Kota Medan yang dulu dikenal sebagai Titi Gantung, berdiri megah sebuah Vihara. Selain itu, Sekretaris Nasional Boemi Poetera ini juga menyoroti tidak adanya ruang terbuka hijau di Kota Medan."Di kota ini, hingga pertengahan tahun 1990-an masih mudah menemukan ruang terbuka hijau. Taman-taman kota masih menguasai areal perkotaan, sebelum akhirnya hari ini (sekarang) taman-taman itu berganti dengan bangunan. Bahkan, Lapangan Merdeka salah satu ruang publik yang tersisa pun kini disewakan dan digunakan untuk tempat usaha. Kesannya pemerintah memang senang merobohkan dan mengganti dengan yang baru," jelasnya. Melihat fakta yang ada sekarang, secara blak-blakan Abdullah menyebut, jiwa Kota Medan sudah hilang. Yang tinggal sekarang adalah jiwa-jiwa yang sok modern, sok gaul, sok maju dan sebagainya. "Dari pendekatan kultural, jiwa kota ini sudah dihilangkan. Sok modern, sok gaul dan sokmaju. Dari pendekatan sejarah, menghilangkan bukti-bukti sejarah dan sudah menabrak peraturan cagar budaya. Dari pendekatan tata kota dan estetika, sudah tidak jelas arah hendak ke mana biduk kemudi diarahkan. Ingatan kolektif telah diputuskan, nurani telah dicampakkan," paparnya. "Lihatlah kota-kota besar dunia, gedung lama tidak dibongkar bahkan dirawat. Gedung moden dibangun bukan menumpuk di kota tapi bergeser ke pinggir kota. Ekonomi berputar, khas kota tetap terawat. Selamat datang generasi baru, generasi tanpa identitas," pungkasnya menyindir. (BS03)