Beritasumut.com-Seluruh wilayah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara (Sumut) secara merata rawan terhadap terjadinya bencana alam. Hal itu dikatakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Riadil Akhir Lubis dalam kegiatan pembekalan bertemakan Meningkatkan Profesionalisme Wartawan Dalam Penanggulangan Bencana 'Wartawan Siap Liput Bencana', Selasa (18/07/2017). "Sumut memang tergolong rawan. Ada 12 jenis bencana bisa terjadi disini, yakni, tanah longsor, tsunami, kekeringan, banjir, kebakaran hutan, erosi, cuaca ekstrem, gempa bumi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim/abrasi, konflik sosial dan wabah penyakit," ujar Riadil. Lebih jauh Riadil mengungkapkan, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kalsifikasi bencana di Sumut juga tinggi. Sehingga semua daerah, resikonya terhadap bencana juga sangat tinggi, meskipun berbeda-beda jenis bencananya."Bencana yang potensinya paling tinggi adalah gempa bumi, longsor, dan juga kebakaran," jelasnya. Sebelumnya, Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho yang diwakili oleh Riadil menyampaikan, berdasarkan data BNPB menyebutkan bahwa semester kedua tahun 2017 ini lebih dari 1417 bencana terjadi di tanah air. Bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin puting beliung dan longsor masih dominan, dan hingga semester ini, lebih dari 200 (216) orang meninggal dan hilang akibat bencana, sedangkan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan dengan kategori berat, sedang dan ringan."Bencana ini memang memiliki kecenderungan naik dalam dua puluh tahun terakhir," ujarnya. Karenanya, BNPB memandang bahwa media massa, khususnya wartawan, adalah salah satu mitra yang sangat strategis sebagai jembatan informasi suatu kejadian bencana yang faktual. Selain, media juga berperan dalam melakukan edukasi publik."Kita mengetahui bahwa berita bencana merupakan topik yang menarik untuk diberitakan kepada masyarakat. Media akan menjadi yang terdepan dalam mengupas suatu bencana yang dapat menarik perhatian masyarakat," terangnya. Namun demikian, lanjut dia, satu tantangan bersama, dalam perspektif BNPB, yaitu memberitakan sesuatu yang dapat membangun kepahaman dan pengetahuan kebencanaan. Karenanya, BNPB dan pelaku penanggulangan bencana mengadopsi Penanggulangan Resiko Bencana (PRB) sebagai strategi penanggulangan bencana, yang tidak lagi mengarusutamakan pada respon atau tanggap darurat."Memberikan pengetahuan PRB kepada masyarakat merupakan tugas berat dan membutuhkan sinergi, khususnya dengan media massa," pungkasnya.(BS03)