Empat Tantangan Dewan Komisaris OJK yang Baru

Herman - Rabu, 31 Mei 2017 13:18 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir052017/7477_Empat-Tantangan-Dewan-Komisaris-OJK-yang-Baru.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ist
Beritasumut.com-Anggota Komisi XI dari Fraksi PKS H Ecky Awal Mucharam menyampaikan empat tantangan yang akan menjadi fokus perhatian Dewan Komisioner OJK yang baru. Hal ini disampaikan Ecky kepada para wartawan di sela-sela rapat terkait pemilihan Dewan Komisioner OJK di Kompleks DPR-RI Senayan, Jakarta, Rabu (31/05/2017).

 

“Pertama, OJK harus bisa menjamin stabilitas sistem keuangan sesuai amanat UU PPKSK. Jangan sampai kejadian krisis moneter yang dipicu oleh sektor perbankan di tahun 1997/98 terjadi lagi. OJK harus menjaga aspek kehati-hatian di sektor keuangan yang sangat rentan terhadap goncangan krisis maupun terjadinya moral hazard dari pelaku industri," ujarnya.

 

Kedua, kata dia, OJK harus bisa menumbuhkembangkan industri baik perbankan maupun industri keuangan non bank (IKNB). Fungsi pelayanan terhadap industri keuangan harus berjalan baik, juga harapan industri harus didengar. Selain itu, sebutnya, OJK harus memiliki standard dan budaya korporat yang melayani industri keuangan sebagai mitra. Industri keuangan juga harus didorong dan didukung untuk memperdalam pasar keuangan serta menguatkan inklusi ekonomi.

 

“Harapannya dengan kedua hal di atas maka sektor keuangan kita akan tubuh secara stabil dan dinamis. Ibaratnya rem dan gas dua-duanya harus jalan. Sehingga di sektor keuangan kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tidak seperti sekarang yang masih didominasi pemain asing,” tambah Aleg asal Jabar ini.

 

Yang ketiga, sebutnya, adalah perlindungan  dan edukasi konsumen, baik yang sudah ada di dalam sistem terlebih lagi yang masih di luar sistem. Fenomena investasi bodong yang makin marak harus jadi target jangka pendek siapa pun komisioner yang terpilih nanti. OJK bisa lebih proaktif melakukan langkah-langkah pre-emptive sebelum terjadi. Sungguh ironis karena di satu sisi modal dalam negeri masih minim di pasar modal, namun justru banyak uang masyarakat nyangkut di investasi-investasi bodong. 

 

“Terakhir, industri keuangan syariah harus dikembangkan dengan serius. Sangat miris sampai saat ini market share perbankan syariah stagnan tidak pernah lebih dari 5 persen, bandingkan dengan Malaysia yang sudah 50 persen. Padahal sudah terbukti perbankan syariah adalah industri keungan yang paling stabil dan tahan krisis, belajar dari krisis di 1997-98 juga krisis 2008,” pungkasnya.(BS01)


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Bank Sumut Raih Penghargaan Keterhunian 100 Persen dari BP Tapera

Peristiwa

Hingga September 2025, Aset Bank Sumut Tumbuh 7,58 Persen dan Laba Rp 539 Miliar

Peristiwa

Mau Luncurkan ETF Emas, BEI Tunggu Restu OJK

Peristiwa

Prabowo Sebut Bank Emas Akan Buka 1,8 Juta Lapangan Kerja Baru

Peristiwa

Begini Jurus OJK Geber Keuangan Syariah di RI

Peristiwa

Hadiri Governansi Insight Forum OJK, Pj Gubernur Pamit ke Komunitas Jasa Keuangan dan Perbankan Sumut