Beritasumut.com-Perseteruan penarik becak motor (Parbetor) dengan angkutan online yang belakangan memanas di Kota Medan, membuat para driver Go-Jek terpaksa beroperasi tanpa mengenakan tanda pengenal khas seperti jaket dan helm yang biasa dipakai setiap mencari dan membawa penumpang termasuk ketika mencari orderan. Tindakan itu diambil sebagai langkah persuasif guna menghindari terjadinya bentrokan dengan pelaku moda transportasi lain yang merasa tidak senang dengan keberadaan Go-Jek."Bukannya kami takut, tapi sesuai arahan, kami diminta untuk tidak memakai jaket atau tanda pengenal lain saat beroperasi supaya tidak terjadi keributan,” ujar seorang driver Gojek, F Purba (35), warga Sei Mencirim Sunggal ketika ditemui di kawasan Jalan Stadion, Teladan, Medan Kota, Kamis (23/02/2017). Purba mengaku, para driver Go-Jek tetap beroperasi seperti hari biasanya sejak pagi, dan menerima panggilan atau orderan. Namun, dia lebih banyak mempertimbangkan keselamatan daripada omset atau pendapatan.“Tengoklah macam hari ini, biasanya pakai jaket ini nggak apa-apa pakai switer awak. Demi keselamatan bro,” kata driver Go-Jek berbadan tambun tersebut. Menurut dia, imbauan tidak menggunakan atribut dalam beroperasi setelah adanya aksi sweeping Parbetor, disampaikan oleh pihak perusahaan. Sebelumnya, mereka juga sempat dikumpulkan pihak kepolisian untuk lebih mendinginkan suasana agar kota Medan tetap kondusif.“Memang kami semalam (Rabu, 22/02/2017) dikumpulkan di Mapolsek Medan Kota dan mendapat arahan. Kami merasa itu benar (maksudnya tidak pakai atribut), karena kami menjadi sasaran. Kita lihatlah situasinya ke depan bagaimana,” imbuhnya. Dari pantauan di sejumlah lokasi yang biasa dijadikan tempat mangkal driver Go-Jek, seperti di kawasan Jalan Stadion, Medan Kota, terlihat hanya beberapa orang bersepeda motor. Mereka menerima panggilan, namun tidak mengenakan atribut khas seperti helm dan jaket.(BS04)