Ketua Dewan Pers Menilai Hoax Disebabkan Kepercayaan Publik Menurun Atas Media Mainstream

Herman - Kamis, 26 Januari 2017 13:35 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir012017/9098_Ketua-Dewan-Pers-Menilai-Hoax-Disebabkan-Kepercayaan-Publik-Menurun-Atas-Media-Mainstream.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ist

Beritasumut.com-Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo mengaku prihatin dengan mewabahnya hoax di tengah masyarakat dewasa ini. Terlebih menurutnya, persoalan ini bukan hanya menjangkiti masyarakat umum namun juga dari kalangan politisi sampai jurnalis juga ada yang melakukan hoax.Hal itu dikatakan dalam forum diskusi publik yang diinisiasi oleh Institut Media Sosial dan Diplomasi KOMUNIKONTEN dengan tema “Strategi Menang Melawan Hoax dan Fitnah”, di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (25/01/2017).Lebih lanjut ditegaskan, hal tersebut bermula dari media sosial (medsos) seperti Twitter dan Facebook yang awal mulanya diciptakan untuk membuat update status atau menemukan kembali teman-teman lama yang berpisah, berubah menjadi sarana seseorang menyampaikan pendapat politik, mengomentari pendirian orang lain. Pada saat yang sama masyarakat kehilangan kepercayaan atas netralitas pers dan isi media mainstream, sehingga masyarakat mencari alternatif dari media sosial.“Di Indonesia diperkirakan ada sekitar 2.000 media media cetak. Namun dari jumlah tersebut hanya 321 media  cetak yang memenuhi syarat disebut sebagai media profesional. Sedangkan media online (siber) diperkirakan mencapai angka 43.300, tapi yang tercatat sebagai media profesional yang lolos verifikasi hanya 168 media  online. Selain itu hingga akhir 2014 tercatat ada 674 media radio dan 523 media televisi,” paparnya.Menanggapi mirisnya fenomena tersebut, Direktur Eksekutif KOMUNIKONTEN, Hariqo Wibawa Satria menegaskan akan perlunya  langkah kolektif menghadapi wabah hoax dan fitnah. Mulai dari mengajak media mainstream untuk turut secara aktif membantu mengedukasi masyarakat melalui informasi kategori, dampak hingga konsekwensi hukumnya. Juga mengajak kalangan pendidik, aparat keamanan, politisi, organisasi masyarakat sampai pemilik perusahaan media sosial agar memiliki komitmen melakukan filter informasi yang beredar di medsos.“Perusahaan medsos memiliki pendapatan yang sangat tinggi, dan yang tertinggi misalnya Facebook. Tapi belum pernah pengusaha itu secara serius melawan hoax, semisal belum mengalokasikan penghasilan mereka untuk membangun tim filter hoax,” tegasnya.Alumnus Universitas Paramadina ini juga menjelaskan proses yang umum terjadi dalam penyebaran kabar bohong atau hoax yang beredar di dunia maya, disebar dari satu akun medsos ke akun medsos lain, berpindah dari Facebook ke Twitter, Twitter ke WhatsApp grup, dan dalam beberapa jam - tanpa diketahui siapa yang pertama menyebarnya - pesan itu telah mengundang amarah atau rasa takut pengguna.Hadir narasumber yang lain dalam acara tersebut, Dr ‎ Unifah Rosyidi (Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia) dan Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf (Pokja Revolusi Mental, Mantan Dirut LKBN ANTARA). Setelah diskusi publik ini, dari institut Media Sosial dan Diplomasi KOMUNIKONTEN akan melakukan kampanye aksi sekaligus penandatanganan spanduk “Deklarasi Hidup Tanpa Hoax dan Fitnah; Kolaborasi Pengguna Media Sosial untuk Kepentingan Nasional” pada hari bebas kendaraan (Car Free Day), Minggu pagi (29/01/2017) pukul 06.30 – 09.00 WIB, di samping Bunderan Hotel Indonesia.(rel) 


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Kolaborasi Bank Sumut dan Media Kunci Pembangunan Daerah yang Berkah

Peristiwa

Komunitas Peduli Seniman Sumut Kutuk Teror Kepala Babi dan Bangkai Tikus ke Jurnalis Tempo

Peristiwa

Tiga Terdakwa Pembunuhan Wartawan Dituntut Hukuman Mati

Peristiwa

Lanjutkan Program UHC-JKMB, Rico Waas Apresiasi Lomba Karya Tulis Jurnalis KoJAM

Peristiwa

Ketua DPRD Sumut Ajak KoJAM Kolaborasi Pemberitaan dan Kritik Membangun

Peristiwa

Satpol PP Medan Ajak Wartawan Jadi Sumber Informasi