Beritasumut.com-Indra Gunawan alias Kuna (45) pemilik toko Kuna Air Rifle & Air Soft Gun di Jalan Ahmad Yani No.97 kawasan Kesawan Medan ditembak hingga tewas oleh dua orang tak dikenal (OTK) pada Rabu (18/01/2017) pagi kemarin.Kepergian mendadak Kuna meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi empat orang anaknya. Pasalnya, sebelum meninggal Rabu pagi, Kuna berpamitan kepada keempat anaknya. Namun, karena tidak memiliki firasat apapun keempat anaknya langsung pergi begitu saja meninggalkan ayah bersama ibu dan neneknya di rumah tanpa menoleh ke belakang.Meski tidak mendapat firasat apapun, namun tiga putri korban merasa sedih sesaat setelah meninggalkan rumah. "Sebelum berangkat kesekolah, kami selalu mengucapkan kata Haribon (sapaan) pada ayah. Saat itu ayah menjawabnya dengan lembut. ‘Rajin belajar, sebentar lagi ayah pergi ya nak’ itulah kata terakhir yang terucap dari mulut ayah pada kami," kata Ria, putri sulung korban dengan deraian air mata di rumah duka, Kamis (19/01/2017). Menurut Ria, kata-kata itu tidak lazim diungkapkan ayahnya di saat anaknya berangkat ke sekolah. "Itu kata-kata yang tak biasa kami dengar, biasanya ayah selalu mengatakan supaya kami rajin belajar dan baik di sekolah," ujarnya. Ternyata, setelah ayahnya mengucapkan kata-kata perpisahan itu, putri sulung korban juga menjawab dengan kata-kata yang tidak bisanya diucapkan pada ayahnya. "Aku memang sempat bilang pada ayah ‘Selamat tinggal ayah’ tetapi aku tidak menyadari kata-kataku itu ternyata kata perpisahan kami untuk selamanya," ucapnya didampingi dua adiknya Nitia dan Gura yang terus berpelukan meratapi wajah ayahnya. Lantunan musik khas India (untuk orang meninggal) di rumah berukuran sekitar 5 X 15 meter itu membut suasana para kerabat keluarga yang datang ke rumah duka inipun turut bersedih dan berurai air mata.Sebab, selama ini Kuna dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Selain, membangun tiga Kuil Hindu, dia juga turut andil dalam membangun sebuah Masjid yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya di Jalan Bambu, Pasar IV, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang. Sehingga, para pelayat yang datang ke rumah korban turut bersedih dan menitikkan air mata. Deraian air mata dari para kerabat yang datang itu ternyata membuat istri korban, Kawida dan orangtuanya Bathema terus menangis dan meratapi wajah Kuna yang sudah terbujur kaku, terutama saat jenazah korban diangkat ke peti jenazah dan selanjutnya dibawa menuju lokasi perabuan (kremasi)."Selamat jalan pak, kami akan selalu dan terus sembahyang untuk Bapak, bila sudah tiba waktunya aku akan menyusulmu," kata Kawida istri korban. Sementara Ibunda Kuna, Bathema yang juga tidak berhenti menangis hanya bisa pasrah. "Apa salah anakku ini, mengapa kamu yang lebih dulu meninggalkan kami. Siapa lagi yang akan mengurus kuil di belakang rumah kita ini nanti nak," kata Bathema. Selain keluarga dan kerabat korban, kesedihan juga dirasakan pihak Kepolisian. Pasalnya, belum ada yang mampu menggantikan posisinya sebagai teknisi dan sekaligus perawat senjata milik Polri di Polda Sumut. "Belum ada yang mampu menggantikan posisinya saat ini sebagai teknisi dan ahli senjata untuk memperbaiki dan merawat senjata kami. Dia (Kuna) selama ini bermitra dengan kami," kata mantan Kepala Detasemen Markas (Kadenma) Polda Sumut, AKBP W Panjaitan, yang memberikan sebuah piagam penghargaan karena berhasil memperbaiki senjata jenis M 16 milik teroris yang merampok Bank CIMB Niaga di Jalan Aksara, Medan, 19 Agustus 2010 silam.(BS04)