Beritasumut.com-Balai Bahasa Sumatera Utara (Sumut) menggelar bincang sastra bertema 'Sastra Etnik Dalam Dunia Maya' di Aula Gedung Balai Bahasa, Jalan Kolam Ujung No 7 Medan Estate, Rabu (26/10/2016). Acara yang dibuka resmi oleh Kepala Balai Bahasa Sumut, Dr Hj Tengku Syarfina M Hum ini menghadirkan dua narasumber yakni Pakar Kesenian Radjoki Nainggolan SE MA dan peneliti dari Balai Bahasa Sumut OK Sahril SS. "Setiap suku bangsa memiliki ciri khas tertentu, sesuai dengan struktur sosialnya. Apalagi di Sumatera Utara ini. Di Sumut sendiri, kita tahu ada 8 etnis asli ditambah etnis pendatang lainnya seperti Jawa, Minang, Aceh, Tionghoa dan lainnya. Semua kajian tentang etnis ini apabila dituangkan ke dalam karya sastra, adalah konsep dasar sastra etnik," ujar Radjoki dihadapan para peserta yang terdiri dari seniman, sastrawan dan akademisi sastra. Lebih jauh, Radjoki berbincang tentang etnis Pantai Barat, yang menurut penelitiannya telah ada sejak abad ke 6. "Budaya dan bahasa membuat masyarakat bisa dekat antara kelompok etnis dengan yang lainnya. Seperti etnis Pantai Barat yang sudah menggunakan bahasa Pesisirnya sendiri," sambungnya. Sementara itu, Sahril juga mengkaji khazanah sastra etnik di dunia digital. "Ibarat air yang selalu merembes, bagai oksigen yang selalu mengalir pada tiap tarikan nafas peradaban, sastra hampir selalu hadir pada tiap kehadiran media komunikasi di masyarakat," ujarnya. Sahril menambahkan jika sastra etnik akan eksis bila bersinergi dengan pihak yang memiliki kemajuan ICT. Sehingga sastra etnis akan dikemas sesuai kondisi perkembangan kualitas publik. "Maka kearifan sastra etnik dapat dimanfaatkan sebagai model dalam menanamkan budi pekerti bagi bangsa Indonesia," tutupnya. (BS02)