Beritasumut.com-Warga di Jalan Timah Kecamatan Medan Area mendatangi Gedung DPRD Kota Medan, Selasa (25/10/2016), terkait penggusuran yang akan dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada Rabu (2610/2046) besok. Para warga diterima langsung anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi PDIP atas nama Boydo HK Panjaitan dan Paul Mei Simanjuntak. “Tolonglah pak, Rabu besok kami mau digusur.Dulu rumah kami sudah dibelah 11 meter oleh PT KAI.Tapi, sekarang dengan sisa 4 meter lagi mau dihancurkan sampai habis,” ungkap Aini mewakili sejumlah warga yang hadir. Aini berharap PT KAI memberi ganti rugi sehingga warga dapat mencari tempat tinggal. Menanggapi keluhan warga tersebut, Boydo menyarankan kepada warga Jalan Timah yang berjumlah 60 kepala keluarga (KK) itu agar dapat memilih pindah ke rumah susun (Rusun).”Ini kesalahan PT KAI, nggak mau benar-benar kerja sama dengan Pemko Medan. Harusnya ada langkah untuk tempat tinggal,” ujar Boydo. Boydo pun membawa warga langsung ke kantor PT KAI Divre I Sumut di Jalan Prof HM Yamin, Medan.Mereka diterima oleh Zakaria mewakili management PT KAI Divre I Sumut.Zakaria menegaskan pihaknya tetap akan melaksanakan keputusan yang telah dikeluarkan. “Besok tetap akan dilakukan pengusuran karena sudah terlalu lama.Dan kami tidak bisa lagi menunda,” tegasnya. Pernyataan Zakaria disayangkan oleh Paul Mei yang saat itu berharap agar terlebih dahulu dilakukan penundaan, sehingga tidak menimbulkan perdebatan.“Kalau bisa dilakukan penundaan pengusuran karena selama ini PT KAI tidak pernah koperatif karena belum pernah dilakukan sosialisasi terhadap warga yang digusur.Jika Presiden Jokowi mengetahui persoalan pengusuran ini pasti tidak ingin terjadi tindakan semena-mena di lapangan karena konsep yang dilakukan PT KAI selalu terjadi pelanggaran dan tidak pernah melakukan langkah kordinasi dengan seluruh stake holder, termasuk Pemko Medan,” terang Paul. Namun, tetap saja apa yang disampaikan tersebut tidak digubris oleh tim PT KAI yang hadir hingga meninggalkan ruangan pertemuan.Tak membuahkan hasil apapun, warga pun sempat menangis histeris yang berharap adanya rasa keadilan.“Di mana hati nurani bapak-bapak kalau kalian jadi kami bagaimana.Tega kali kalian,” keluh sejumlah warga dengan isak tangis meninggalkan ruangan.(BS03)