Beritasumut.com-Usai menciduk kurir sabu asal Aceh, Polda Sumut memburu nama lain yang diduga merupakan bandar sabu yang dikenal dengan nama Politron.Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Sumut, AKBP Hilman Wijaya menyebut, nama lain yang dimaksud adalah Politron. Menurut dia, Politron merupakan bandar besar yang telah lari ke Malaysia. "Kami kesulitan menangkapnya karena telah kabur ke Malaysia. Sudah kami cek ke Imigrasi, ternyata dia pakai nama lain," kata Hilman, Kamis (29/09/2016).Begitupun, Hilman mengaku, pihaknya terus mendalami dan mencari Politron. Selain itu, juga mencari tahu nama asli Politron tersebut.Sebelumnya, tiga pelaku asal Aceh diciduk usai melakukan penyelidikan kurang lebih selama tiga pekan. Ketiganya adalah, M Jamil, Abdul Aziz dan Jalaludin. Modus pengungkapan yang dilakukan polisi sama seperti sebelumnya. Yakni, dengan cara undercover buy atau menyamar sebagai pembeli narkoba.Menurutnya, ketiganya dibekuk di seputaran Jalan Ringroad, Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang. Sebelumnya, petugas menyaru sebagai pembeli dan telah ketemu dengan tiga tersangka itu di Jalan Medan-Binjai Km 16.Menurut Hilman, proses penyelidikan untuk deal membeli sabu itu berlangsung alot. Begitupun, pihaknya berhasil sepakat dengan pembeli untuk membeli sabu tersebut.Menurut dia, ketiga warga Aceh ini disuruh oleh seorang bandar besarnya berinisial P. Kata Hilman, saat ini bandar besar berinisial P itu berada di Malaysia. "Mereka (tersangka) menerima barang dari orang suruhan si P atau perantaranya. Ketiga tersangka itu dapat komando dari P untuk menemui orang suruhan si P tersebut," kata Hilman.Namun, Hilman tak dapat memastikan kalau bandar besar berinisial P itu merupakan jaringan internasional. "Kemungkinan iya. Karena asumsi saya, kalau barang bukti itu dibungkus dalam goni wang yang dikemas dalam bubuk teh cina. Contohnya, kasus sebelumnya ada ditemukan di Labuhanbatu. Tapi saat ini kami masih melakukan pengembangan," tambah Hilman.Hilman menambahkan, ketiga pelaku memiliki peran yang berbeda. Dua di antaranya kurir yang membawa kristal putih itu dari Aceh menuju Kota Medan. Masing-masing M Jamil dan Abdul Azis. Sedangkan seorang lagi, Jalaluddin adalah tim survey yang mengkondisikan lokasi transaksi aman dari endusan polisi.Lantas dari mana ketiganya ini kenal dengan bandar besar itu? "Hasil interogasi penyidik, mereka pernah kerja di Malaysia. Saat di Malaysia itulah, mereka kenall dengan bandar besar tersebut," tandas Hilman seraya bilang, kalau ketiganya sudah menerima upah dari P senilai Rp16 juta. "Nanti kalau sudah selesai (beres transaksi), mereka akan dapat upah tambahan lagi," pungkas perwira dengan dua melati emas di pundaknya ini.(BS04)