La Nina Terdeteksi, Warga Diimbau Waspadai Banjir dan Longsor

Herman - Jumat, 02 September 2016 15:50 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir092016/4925_La-Nina-Terdeteksi--Warga-Diimbau-Waspadai-Banjir-dan-Longsor.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ilustrasi

Beritasumut.com-BMKG telah mendeteksi munculnya fenomena La Nina meskipun masih lemah pada akhir Agustus 2016. Diprediksi La Nina bertahan hingga awal 2017. Bersamaan dengan La Nina terjadi fenomena Dipole Mode negatif sejak Mei 2016, yang diprediksi bertahan hingga November 2016, dan kondisi anomali Suhu Muka Laut yang hangat disekitar perairan Indonesia. Kondisi demikian akan menyebabkan tingginya curah hujan di Sumatera dan Jawa bagian Barat.BMKG juga memperkirakan musim “kemarau basah” akan berlangsung sampai dengan September di sebagian besar wilayah Indonesia. Pulau Jawa, Sulawesi bagian timur, Papua bagian tengah dan Kalimantan serta Sumatera bagian selatan diprediksi akan mengelamai kenaikan curah hujan hingga 200 persen.Kombinasi antara La Nina, Dipole Mode, dan anomali suhu muka air laut yang hangat telah memberikan dampak signifikan meningkatnya bencana di Indonesia saat ini. Pada periode ini dari 1 Januari-1 September 2016, terdapat 1.495 kejadian bencana di Indonesia yang menyebabkan 257 orang meninggal dunia, 2,86 juta orang menderita dan mengungsi, dan ribuan rumah rusak. Lebih dari 95 persen dari bencana tersebut adalah bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi oleh cuaca.Sebaliknya meningkatnya curah hujan memberikan dampak positif yaitu menurunnya jumlah kebakaran hutan dan lahan, dan kekeringan. Daerah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian Selatan dan sebagian Kalimantan yang biasanya kekeringan. Saat ini intensitas kekeringan sangat kecil. Tidak banyak lahan pertanian yang puso. Masyarakat yang mengalami kekeringan dan krisis air tidak banyak. Hanya terjadi di beberapa daerah yang memang endemik kekeringan karena faktor geologis dan hidrometeorologis.Begitu juga kebakaran hutan dan lahan. Meningkatnya curah hujan selama musim kemarau dan upaya pemerintah yang lebih baik dibandingkan sebelumnya dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan telah menyebabkan luas kebakaran hutan dan lahan lebih menurun, baik jumlahnya mapun sebarannya. Jumlah hotspot dari satelit Modis terdapat penurunan 61 persen hingga periode akhir Agustus."Masyarakat diminta untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaannya dari ancaman banjir dan longsor terkait adanya peningkatan curah hujan. BMKG melaporkan prakiraan awal musim hujan 2016/17 di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus – November 2016 (92,7 %), dengan sifat hujan pada periode musim hujan 2016/2017 secara umum diprakirakan 51% normal, 48 % di atas nomal dan hanya 1% di bawah normal," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (02/09/2016).(BS01)


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Jalan Longsor Pamah Semelir Langkat Mulai Diperbaiki Oktober

Peristiwa

Gubernur Bobby Pastikan Penanganan Banjir di Jalan Letda Sujono Dimulai 2027

Peristiwa

Yayasan IKAL Peduli Nusantara Salurkan Bantuan Banjir di Pangkalan Susu dan Tanjung Pura

Peristiwa

Arman Chandra Salurkan 500 Paket Makanan ke Korban Banjir Medan dan Langkat, Komitmen Bantu Pengungsi

Peristiwa

Ratusan Petugas Dikerahkan, PLN Sumut Perkuat Siaga Kelistrikan Akibat Cuaca Ekstrem

Peristiwa

Empat Kabupaten di Sumut Dilanda Bencana Banjir dan Longsor Secara Bersamaan, 8 Orang Meninggal