Bab Malik Abdul Aziz, Pintu Utama Masjidil Haram Mulai Dibuka

- Sabtu, 27 Agustus 2016 21:39 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir082016/3236_Bab-Malik-Abdul-Aziz--Pintu-Utama-Masjidil-Haram-Mulai-Dibuka.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/IST
Jemaah haji menuju Masjidil Haram melalui Bab Malik Abdul Aziz yang baru dibuka.
Beritasumut.com-Setelah sekian lama mengalami proses peluasan (tawsi'ah), pintu utama Masjidil Haram yang biasa disebut Bab Malik Abdul Aziz mulai difungsikan. Meski belum sepenuhnya selesai, gerbang utama yang diberi nomor 1 dari ratusan pintu masuk Masjidil  Haram ini sudah bisa diakses para jemaah haji yang akan menuju area tawaf (Mataf).

 

Dibukanya Bab Malik Abdul Aziz mendekatkan akses jemaah haji Indonesia yang tinggal di daerah Misfalah. Posisi pintu yang desainnya  akan diapit dua menara besar itu berhadapan langsung dengan Tower Zamzam.Dibukanya pintu bercat putih ini juga menambah akses baru  masuk Masjidil Haram. Sebelumnya, jemaah yang datang dari arah Misfalah dan Jarwal pintuk masuknya terkonsentrasi pada Bab Malik Fahd  yang berada pada sisi sebelah kanan pintu utama.

 

Dilansir dari laman resmi Kemenag.go.id, Sabtu (27/08/2016), ribuan jemaah haji dari berbagai negara datang bergelombang sejak Jumat  (26/08/2016) pagi untuk menunaikan salat Jumat di Masjidil Haram. Waktu baru menunjukan pukul 09.30 waktu Arab Saudi (WAS) saat tim  Media Center Haji (MCH) Daker Makkah tiba di sana. Meski terbilang belum terlalu siang, panas sudah sedemikian terik dengan suhu  mencapai 41 derajat selsius.

 

Kepada para jemaah, Khatib Salat Jumat mengingatkan bahwa waktu terus berjalan tanpa seorang pun yang bisa menghentikan. Karenanya,  sudah semestinya umat Islam untuk bersegera menuju jalan takwa.Suara Khatib memberat dan terisak, manakala membaca QS Ali Imran ayat  96 97: "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang  diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya, terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) Maqam Ibrahim."

 

Maqam Ibrahim menandai tempat Nabi Ibrahim berdiri ketika membangun Ka'bah bersama anaknya, Nabi Ismail. Menurut Khatib, Maqam  Ibrahim menjadi bukti nyata kepatuhan dan keikhlasan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah Swt.

 

Hal lainnya pada Baitullah adalah keberadaan Hajar Aswad. Batu hitam yang dalam riwayat dulunya berwarna putih lalu menghitam karena  dosa anak Adam ini menyimpan sejarah kebijaksanaan Rasulullah Saw. dalam memberikan rasa keadilan kepada seluruh kabilah yang hampir  terpecah karena berebut kesempatan untuk meletakkanya di Ka'bah.

 

Sebagai orang yang ditakdirkan Allah memenangkan sayembara, menjadi orang yang pertama kali lewat pintu masjid, Rasulullah berhak  menjadi penentu keputusan atas perselisihan tentang siapa yang harus meletakan Hajar Aswad di Ka'bah. Rasulullah lalu mengambil selembar selendang dan meletakan Hajar Aswad di bagian tengahnya. Seluruh pemuka kabilah yang berselisih diminta untuk memegang ujung selendang dan bersama-sama mengangkat Hajar Aswad. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah lalu meletakkan Hajar Aswad di Kabah. Keputusan ini diterima oleh seluruh kabilah sehingga tidak terjadi pertumpahan darah.

 

Menutup Khutbahnya, Khatib mengajak jemaah haji untuk menjadikan momentum berhaji di Tanah Suci sebagai Syiar Tauhid untuk meng-Esakan Allah dan syiar Talbiyah untuk memenuhi panggian Allah."Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan nikmata laka wal mulk, laa syariika laka," katanya dengan suara terisak.

 

Usai salat Jumat, tim MCH menjumpai tiga orang jemaah haji Indonesia asal Medan. Mereka mengaku baru pertama mengikuti Salat Jumat di Masjidil Haram. Menurut Syahnan Adnan Nasution, pengalaman pertama ini memberi kenikmatan tersendiri baginya."Salat Jumat nya enak di sini, ramai. Meski tidak mengerti, namun nikmatnya dapat. Apalah gunanya bahasa kita kalau tidak nikmat, tidak khidmat kita mendengarkan," tuturnya. (BS02)

 


Tag:

Berita Terkait