Beritasumut.com-Melihat dampak perubahan iklim yang menyebabkan cuaca dan musim tak menentu dan sulit diprediksi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia meminta semua BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) di seluruh nusantara agar terus meningkatkan kesiapsiagaannya.
Kekhawatiran BNPB ini dipicu adanya gejala fenomena La Nina yang saat ini masih terus dipantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Tingginya intensitas curah hujan di banyak wilayah di Indonesia berdampak banjir, longsor dan puting beliung yang makin meningkat.
BNPB mencatat, lebih dari 95 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi yaitu bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca dan iklim seperti banjir, longsor, puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, dan gelombang pasang.
"Saat ini harusnya sebagian besar wilayah Indonesia memasuki awal musim kemarau. Pertengahan bulan Juni umumnya sudah kemarau. Namun saat ini, hujan berintensitas tinggi masih sering turun. Fenomena La Nina diperkirakan baru terdeteksi pada Juli, Agustus dan September nanti, yang akan berimbas pada meningkatnya hujan selama musim kemarau," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, melalui siaran persnya, Sabtu (18/06/2016).
Dia mengatakan, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat selama 17 – 20 Juni 2016. Potensi hujan lebat terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku dan Papua.
"Selain itu, potensi hujan lebat dan gelombang tinggi yang berpeluang terjadi di perairan selatan Sumatera, Jawa hingga Bali-NTT. Dengan ini, BNPB memerintahkan semua BPBD di daerah yang memiliki potensi hujan lebat agar tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung," tandasnya. (BS02)