Beritasumut.com-Perubahan iklim yang ekstrim di tahun 2016 ini berdampak besar bagi negara-negara di dunia, salah satunya, Indonesia. Negara tropis yang wilayahnya dikelilingi perairan ini turut merasakan dampak dari perubahan iklim tersebut. Cuaca dan musim menjadi kian tak menentu dan sulit diprediksikan. Curah hujan berintensitas tinggi yang sering terjadi di banyak wilayah Indonesia berdampak banjir, longsor dan puting beliung yang semakin meningkat.
Selama tahun 2016, berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah terjadi 1.053 kejadian bencana di Indonesia yang menyebabkan 157 orang meninggal dunia dan lebih dari 1,7 juta jiwa menderita dan mengungsi. Ratusan ribu rumah rusak akibat bencana. Bencana banjir mendominasi kejadian bencana yaitu 429 kejadian, puting beliung 310 kejadian, dan longsor 255 kali kejadian. Tercatat 142 orang meninggal akibat banjir dan tanah longsor.
Menanggapi hal ini, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, anomali cuaca ini disebabkan adanya beberapa faktor. "Diantaranya, hangatnya suhu muka laut di atas normal perairan Indonesia barat, masuknya aliran massa udara basah dari samudera India di maritim kontinen Indonesia dan lemahnya aliran masa udara dingin Autralia di wilayah Indonesia," ujar Sutopo melalui siaran persnya, Sabtu (18/06/2016).
Dia menambahkan, penyebab anomali cuaca ini juga sebab adanya daerah perlambatan, pertemuan dan belokan angin di wilayah Sumatera dan Kalimantan, yang mengakibatkan kondisi atmosfer menjadi tidak stabil sehingga terjadi peningkatan curah hujan.
"Untuk itu, BNPB telah memerintahkan semua BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) di daerah yang memiliki potensi hujan lebat agar tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung. BPBD agar mengacu pada peta rawan bencana yang telah dibagikan. Masyarakat agar selalu diberikan informasi ancaman bencana," paparnya.
Menurutnya, BPBD telah mengkoordinir potensi daerah agar siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. "Logistik dan peralatan yang ada di gudang BPBD agar digunakan untuk penanganan darurat. Tim Reaksi Cepat BNPB telah disiapkan untuk dapat diterjunkan ke lokasi bencana dalam kurun waktu kurang dari 24 jam untuk mendampingi BPBD dalam penanganan darurat," pungkasnya. (BS02)