Beritasumut.com-Presiden Jokowi menilai perlu energi terbarukan untuk mengatasi masalah krisis listrik. Menurutnya, banyak yang masih mobile power plant, kemudian nantinya akan dilihat lagi yang hydro power plant dan PLTU yang besar-besar.“Kalau nanti sudah jalan, kita ingin melihat provinsi-provinsi yang kurang itulah yang kita tambahi terlebih dahulu, yang kurang dikejar untuk ditambah biar tidak ada biarpet. Kalau sudah cukup, itu yang akan kita perluas lagi,” ujar Presiden.Proses ekspansi, menurut Presiden, harus melihat perkembangan setiap tahun apakah itu akan ada pertumbuhan, ada permintaan sehingga yang sudah cukup ini tetap dihitung lagi.“Ini harus mulai berpikir ke konversi perpindahan energi bersih, energi yang terbarukan. Memang yang masih banyak adalah yang kurang. Seperti di NTB ini masih kurang. Insya Allah bulan Agustus akan rampung mobile power plant. Kemudian ada juga datang yang kapal, juga di NTB September, Oktober,” tutur Presiden.Saat menjawab hal lain selain listrik, Presiden Jokowi menyampaikan jika di situ ada pertumbuhan ekonomi yang ke depan harus diantisipasi. “Jangan sampai ada pertumbuhan ekonomi tidak diantisipasi sehingga pertumbuhan itu menjadi berhenti atau malah turun. NTB tadi saya sampaikan pertumbuhan ekonomi 9,9 persen,” tutur Presiden, seperti dilansir setkab.go.id.Mengenai penyelesaian proyek yang berhenti, Presiden menyampaikan bahwa nanti akan dibahas dalam rapat terbatas setelah sebelumnya dicek lagi oleh BPKP.Presiden Jokowi menyampaikan bahwa mengejar kecepatan itu yang MPP, 6-7 bulan rampung meski dalam jangka panjang mesti kita lihat cost-nya, mana yang murah, masih batubara. “Tetapi ke depan karena kita punya potensi air, sungai, hydro juga sebentar lagi akan kita tunjukkan dimana nanti yang hydro,” pungkas Jokowi.(BS01)