Beritasumut.com-Mendukung program Swasembada Pangan pemerintah, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Gunung Meriah yang bekerja sama dengan kelompok tani Desa Marjandi Tonga, PPL Kecamatan Gunung Meriah melaksanakan pemupukan jagung dilahan Demplot Koramil 22/Gunung Meriah, pertengahan pekan ini.
Di lahan milik Jonathan Sitepu, Desa Marjandi Tonga, Kecamatan Gunung Meriah, Sertu Joko dari Babinsa Koramil 22/Gunung Meriah membantu petani tersebut memupuk tanaman jagungnya yang rata-rata berumur 100-110 hari.
"Dengan rentang umur yang tak jauh berbeda, metode pemupukan yang diberikan sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan hasil panen jagung." ujar Sertu Joko. Dia berpendapat demikian, sebab mayoritas jagung yang dibudidayakan petani Jonathan ditanam secara monokultur atau dengan metode tumpang sari.
"Ini membuat suplai nutrisi dari alam kurang mencukupi, sebab hara dari tumbuhan lain berkurang dan terjadi kompetisi antar tanaman," kata Sertu Joko. Menurut dia, jagung sebaiknya dipupuk pada masa sebelum tanam, umur 15 HST, dan 30 HST. Pupuk dasar di awal masa pemupukan berfungsi untuk menyiapkan nutrisi bagi tanaman pada fase awal pertumbuhan.
Pemupukan tanaman jagung ini berlangsung selama masa tanam. Babinsa pendamping, Sertu Joko sangat antusias memotivasi para petani untuk selalu memperhatikan kualitas dan kesehatan tanamannya.
"Saat berkecambah, jagung menggunakan nutrisi dari biji jagung. Setelah beberapa hari nutrisi dari biji akan habis dan akar mulai berfungsi mencari makanan. Disinilah terjadi proses adaptasi terhadap lingkungan yang biasanya diiringi dengan stres tanaman. Semakin lama stres pertumbuhan akan semakin terhambat. Untuk memperpendek fase stres ini, kebutuhan hara harus tercukupi," pungkasnya. (BS02)