Beritasumut.com-Koordinator Pengendalian Tembakau Yayasan Pusaka Indonesia, OK Syahputra Harianda mengungkapkan, angka perokok dan jumlah konsumsi rokok di Indonesia semakin meningkat pesat termasuk anak-anak dan perempuan. Hasil survey Global Youth Tobacco Survey (GYTS, 2009) menyatakan bahwa 30,4% anak sekolah di Indonesia pernah merokok.Sementara itu, hasil survey Susenas pada tahun 2015 menyatakan bahwa penduduk berusia 15 tahun keatas yang mengkonsumsi rokok terbesar adalah 22,57% di perkotaan dan 25,05 persen di pedesaan. Data tersebut mengancam Indonesia kehilangan 'Bonus Demografi' pada tahun 2020-2030, dimana penduduk usia produktif (15-64 tahun) dikhawatirkan terkena penyakit kronis yang mengganggu produktifitas."Telah banyak survey membuktikan jika kelompok masyarakat menengah kebawah adalah komunitas yang paling banyak menghabiskan uangnya untuk membeli rokok. Bahkan uang yang digunakan membeli rokok setiap bulan jauh lebih besar dari biaya kesehatan dan pendidikan untuk anaknya," jelasnya.OK juga menambahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016 menyatakan bahwa dari hasil survey Susenas, rokok merupakan penyumbang nomor dua kemiskinan setelah beras. Untuk itu, ketegasan pemerintah dalam implementasi KTR menurutnya harus ditegaskan.(BS03)