Perbaikan Genetika Sapi Lokal dengan Transfer Embrio

Redaksi - Kamis, 26 Mei 2016 23:30 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir052016/beritasumut_Perbaikan-Genetika-Sapi-Lokal-dengan-Transfer-Embrio.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Beritasumut.com/Ist
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir kunjungi Rumah Potong Hewan (RPH) di Karawaci 

Beritasumut.com-Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengunjungi Rumah Potong Hewan (RPH) di Karawaci Tangerang, Banten, Rabu (25/04/2016) malam. Kunjungan ini untuk menyaksikan proses rangkaian persiapan perlakuan teknologi Transfer Embrio (TE) pada sapi di tempat tersebut.

TE merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Teknologi ini memiliki kelebihan dari ilmu reproduksi lainnya seperti IB. Transfer embrio merupakan suatu proses, mulai dari pemilihan sapi-sapi donor, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio, penanganan dan evakuasi embrio, transfer embrio ke resipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran. Transfer embrio memiliki manfaat ganda karena selain dapat diperoleh keturunan sifat dari kedua tetuanya juga dapat memperpendek interval generasi sehingga perbaikan mutu genetik ternak lebih cepat diperoleh.

TE seekor betina unggul yang disuperovulasi kemudian diinseminasi dengan sperma pejantan unggul dapat menghasilkan sekitar 40 ekor anak sapi unggul dan seragam setiap tahun, bila dibandingkan dengan perkawinan alam atau IB hanya mampu melahirkan 1 ekor anak sapi pertahun. Bahkan bisa dibuat kembar identik dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan teknik “Cloning“. Teknologi TE juga dapat membuat jenis kelamin (jantan atau betina) anak sapi yang diinginkan.

Terkendalanya lokasi laboratorium dengan RPH ke tempat laboratorium yang sekarang hanya ada di Bogor masih menjadi masalah karena Transfer Embrio ini hanya bertahan sekitar 6 jam.

“Saya ingin ada satu paket di tempat ini dari mulai pemotongan hewan sampai laboratorium untuk melakukan proses transfer embrio di sini, saya juga menghimbau untuk tidak memotong sapi betina lokal, tujuannya untuk perbaikan genetika sapi-sapi lokal yang harus ditingkatkan terus,” tutur Nasir dilansir dari laman resmi ristekdikti.go.id.

Kepala Lab Reproduksi Pemuliaan dan Kultur Sel Hewan Puslit Bioteknologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Syahrudin Said sependapat perkataan Menristekdikti terkait ingin terus meningkatkan kualitas laboratorium di Indonesia dan mendukung proses Transfer Embrio (TE) pada sapi lokal ini. “Saya harap ada Standar Pemeliharaan dan SOP yang jelas maka saya yakin Transfer Embrio pada sapi-sapi ini akan berjalan baik,” jelasnya.(BS02)


Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Pemerintah Pertajam DAK Tahun 2023 untuk Pembangunan Daerah

Peristiwa

KDH Sedataran Tinggi Sumut Puji Gubernur Edy Cetak Sejarah Baru

Peristiwa

Premier League Catatkan Belanja Januari Terbesar Kedua dalam Sejarah

Peristiwa

Terima TKDD, Bobby Nasution akan gunakan untuk Percepatan Pembangunan Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Peristiwa

Bursa Transfer: Jorginho ke Juventus, Bek Barcelona ke City

Peristiwa

Prajurit Konga XXVIII-J/UNIFIL Laksanakan Upacara Transfer Of Authority di Lebanon