Beritasumut.com-Puluhan orang yang tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam Se Sumatera Utara Kamis siang (26/05/2016) mendatangi Kantor Gubsu di Jalan Diponegoro Medan. Mereka mendesak agar pemerintah mengembalikan fungsi hutan konservasi Sibolangit. Pasalnya, salah satu penyebab terjadinya bencana banjir bandang di kawasan air terjun Dwi Warna akibat adanya perambahan hutan, pencemaran lingkungan dari sampah wisatawan. Hal ini dibuktikan dengan kondisi di lapangan dimana SAR menemukan air bah yang bercampur lumpur dan gelondongan kayu. "Tutup kawasan wisata air terjun dwi warna dan kembalikan fungsi hutan konservasi sibolangit," ujar Irfan Munthe koordinator aksi.Dalam orasinya, massa menilai tewasnya puluhan orang dalam peristiwa banjir bandang tersebut merupakan lemahnya fungsi Dinas Kehutanan Sumut dalam melakukan pelestarian kawasan hutan konservasi yang harusnya dikelola dan dijaga. Dimana kawasan air terjun Dwi Warna yang masuk dalam kawasan hutan konservasi yang diawasi oleh UPT Tahura dimana kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Hal ini diperburuk lagi dengan dijadikan oknum bisnis dari oknum-oknum tertentu dengan menarik retribusi untuk memasuki kawasan tersebut. Di sisi lain untuk memasuki kawasan hutan konservasi haruslah mendapat izin dari Dishut Sumut dalam hal ini UPT Tahura. "Kami selaku Mahasiswa Pecinta Alam se Sumut meminta agar Gubernur Sumut DPRD Sumut beserta Kapoldasu agar mengusut peristiwa banjir bandang air terjun Dwi Warna yang diduga diakibatkan kerusakan hutan," ujarnya lagi.Massa pun menilai perlu adanya tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang bertanggungjawab menelusuri aliran dana retribusi liar yang diduga mengalir ke Camat Sibolangit, kapolsek Pancur Batu, Dinas Pariwisata Deliserdang, serta UPT Tahura yang diberikan oleh oknum pengelola wisata Dwi Warna."Karena para wisatawan ditarik retribusi oleh oknum maka pengelola harus segera mengeluarkan dana Asuransi kepada para korban yang tewas ataupun selamat. Kita minta bangunan-bangunan liar yang berada di daerah kawasan hutan konservasi sibolngit dibongkar," pungkasnya.Selain menggelar orasi massa juga menggelar teaterikal menceritakan maraknya aksi pengerusakan hutan. Dalam teaterikal itu, massa menggambarkan kalau saat ini banyak terjadi perambahan hutan demi kepentingan oknum-oknum tertentu.Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sumut bidang Aset dan Pertanahan Robetson yang datang menemui pengunjuk rasa tidak dapat memberikan tanggapan secara tegas atas tuntutan yang disampaikan. "Kita tidak tahu kapan akan kita sampaikan tuntutan ini untuk ditanggapi, sabar saja lah ya," ujarnyaSeperti diketahui, Bencana banjir bandang yang terjadi belum lama ini di kawasan Air Terjun Dua Warna telah menelan sedikitnya 21 korban jiwa. Dinas Kehutanan Pemprov Sumut menyebut bahwa banjir bandang yang terjadi tersebut murni disebabkan faktor alam."Kalau ilegal logging tidak ada, tim investigasi kita dari UPT Tahura sudah berikan laporannya. Mungkin banjir itu karena faktor alam," ujar Humas Dinas Kehutanan Sumut Zainuddin Harahap saat ditemui beberapa waktu lalu.(BS03)