Beritasumut.com-Pembangunan pembangkit listrik tenaga thorium dinilai lebih unggul daripada PLTU batubara karena biaya produksi lebih murah, dibangun lebih cepat, lebih aman, lebih ramah lingkungan, jauh lebih efisien, dan mempunyai kapasitas jauh lebih besar.Pemerintah, pelaku usaha dan pemangku kepentingan diminta untuk mencermati negara-negara di ASEAN dan Asia lain yang saat ini terus menggenjot pasokan energi listrik demi penguatan daya saing industri. Saat ini Tiongkok sudah mengoperasikan 32 unit PLTN dan sedang membangun 22 unit PLTN lagi. Negara-negara berkembang lain seperti Bangladesh, Vietnam, Malaysia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, dan Kuwait telah memulai perencanaan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir. Vietnam sudah memulai pembangunan PLTN yang akan beroperasi pada 2020 dan Bangladesh baru saja menandatangi kontrak pembangunan PLTN yang di harapkan beroperasi 2022. Sementara Malaysia memiliki roadmap untuk mulai membangun pembangkit di tahun 2030.Oleh karena itu, Menteri Perindustrian Saleh Husin menegaskan, Indonesia harus cepat bertindak untuk mengantisipasi perubahan tersebut, terutama di dalam perdagangan bebas baik di tingkat bilateral, regional, dan multilateral. Hal ini dapat dimulai dengan menyatukan tekad untuk memulai perencanaan pembangunan PLT Thorium agar dapat menanggulangi potensi kelangkaan energi di tahun 2025.“Diharapkan kita bisa memanfaatkan potensi thorium yang luar biasa ini untuk membangun industri yang kuat, mandiri, berdaya saing tinggi, dan mampu mensejahterakan rakyat,” terang Saleh Husin saat meresmikan Seminar Nasional 'Thorium sebagai Sumber Daya Revolusi Industri' di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (24/5/2016). (BS02)