Beritasumut.com-Desa Gamber, Kecamatan Simpang Empat, Karo sudah ditetapkan pemerintah sebagai zona merah Gunung Sinabung. Di area ini warga tidak diperbolehkan untuk melakukan aktifitas. Namun karena terpaksa, warga masuk ke zona merah tersebut. Hingga kemudian terjadilah luncuran awan panas secara tiba-tiba yang menelan korban 7 orang tewas dan 2 kritis.
Siti Beru Ginting (70), salah seorang warga saat ditemui di RSUP H Adam Malik mengakui hal tersebut."Memang kami rutin masuk kembali ke Desa setiap harinya. Tapi itu juga karena terpaksa," ungkapnya kepada wartawan, Senin (23/5).
Siti yang merupakan istri Cahaya Sembiring Meliala (75) salah satu korban luka saat peristiwa itu terjadi menjelaskan, jika mereka memang terpaksa kembali mengolah kebun kopinya. Sebab, bantuan yang disediakan pemerintah dinilainya tidak mencukupi.
"Yang diberikan kan hanya makan, itupun masih kurang. Sementara kebutuhan lain, seperti biaya sekolah dan lainnya harus dipenuhi. Jadi mau nggak mau kebun harus dimanfaati lagi, walau ada di zona merah," jelasnya. Hal tersebut, sambung Siti memang umum dilakukan oleh warga di desanya tersebut. Selain juga menjaga rumah mereka yang harus ditinggalkan karena bencana erupsi Sinabung. "Kalau siang kami memang kembali. Tapi malamnya kami kembali mengungsi di tempat keluarga," tambahnya.
Saat peristiwa awan panas itu, Siti mengaku sedang berada di desanya itu bersama suami dan kerabatnya yang lain yang menjadi korban. Sebelum awan panas menerpa, pemberitahuan memang sudah diberikan, sehingga dia lari menyelamatkan diri, dengan menggunakan mobil evakuasi. Namun naas bagi suaminya, yang ikut menjadi salah satu korban terkena awan panas. Meski tidak meninggal, tetapi mengalami luka bakar yang serius di sekujur tubuhnya."Saya sudah sempat naik. Tetapi suami saya memanggil warga lainnya dulu untuk evakuasi, sehingga dia juga jadi korban," keluhnya.
Sementara itu, Rusni Beru Sitepu salah satu keluarga Cahaya Beru Tarigan (45) yang juga menjadi korban mengatakan bahwasanya pihaknya sudah meminta korban untuk pindah dari Desa tersebut. Tetapi korban tidak mau dan lebih memilih bertahan karena alasan ekonomi. "Sehingga dia tetap bertahan di sana. Mereka kembali karena dana bantuan dari pemerintah tidak ada lagi. Terakhir mereka terima 6 bulan terakhir," tandasnya.(BS02)