Beritasumut.com-Keluarga korban banjir bandang di Sibolangit banyak yang mengeluhkan lambannya proses identifikasi. Hal tersebut dipahami oleh Kasubbid Penmas AKBP MP Nainggolan. Menurutnya, proses identifikasi sangat bergantung dengan kondisi jenazah maupun data yang dilaporkan keluarga korban kepada petugas.
Dalam prosesnya, identifiksi dilakukan melalui pencocokan data Postmortem dan data Antemortem yang ditabulasi tim di posko yang ada. Meski dilakukan dengan kinerja yang maksimal, proses identifikasi akan memakan waktu lama jika kondisi jenazah mengalami kerusakan secara fisik terlebih jika data yang diperoleh dari pihak keluarga kurang mendukung untuk mengenali identitas jenazah.
"Kita memahami keluhan para keluarga korban yang menganggap proses identifikasi lambat. Tentunya tim sudah bekerja semaksimal mungkin, tapi selama apa hasilnya sangat tergantung data yang diperoleh di Posko Postmortem Postmortem dan Antemortem," ujarnya, Kamis (19/05/2016).
Ditambahkannya, fungsi posko Postmortem yang ada mendata semua data-data fisik yang diperoleh melalui personal identification setelah korban meninggal seperti misalnya sidik jari, golongan darah, konstruksi gigi dan foto diri korban pada saat ditemukan lengkap dengan barang-barang yang melekat di tubuhnya.
"Sedangkan posko Antemortem itu mendata semua data-data fisik khas korban sebelum meninggal mulai dari pakaian, aksesoris yang dikenakan, barang bawaan, tanda lahir, tato, bekas luka, cacat tubuh, foto diri, berat dan tinggi badan, serta sampel DNA.
"Tidak bisa dilakukan kejar tayang karena hasus melalui pencocokan data-data dari dua posko itu. Jadi kalau kondisi jenazah rusak, pastinya identifikasi memakan waktu lama. Tapi kalau kondisi jenazah dan informasi dari keluarga cukup lengkap, identifikasi hanya memakan waktu dua jam paling lama. Maka itu terkadang bisa satu jenazah itu diakui tiga keluarga yang berbeda misalnya, karena ciri-cirinya nya kurang jelas dan hampir serupa," jelasnya.(BS05)