Beritasumut.com-Direktur Kerjasama Regional and Multilateral BNPT Herry Sudradjat mengakui, Sumut mempunyai modal yang cukup besar mencegah terorisme. Sebab, Sumut memiliki masyarakat yang multi culture dan toleransi yang sudah mengakar. Tapi di lain pihak, dengan berkembangnya teknologi informasi maka sangat mudah sekali memperoleh informasi sehingga paham radikal dari luar juga bisa lebih mudah masuk untuk kalangan muda dan orang-orang yang merasa terpinggirkan."Inikan kota besar dan yang terlibat terorisme itu memang ada. Artinya bukan berarti Sumut aman dari terorisme, justru tantangannya cukup besar apalagi jumlah pengguna media sosial di Sumut cukup besar, sehingga paham radikalisme yang merupakan cikal bakal terorisme lebih mudah masuk," kata Herry kepada wartawan usai membuka Workshop Coutering Violent Extremism untuk penanggulangan terorisme, di Medan, Rabu (11/05/2016).Dengan adanya internet dan media sosial, maka untuk mengajak atau mendorong seseorang untuk melakukan tindakan radikalisme yang dibarengi kekerasan tidak harus bertatap muka. "Untuk mendoktrin paham radikalisme kepada masyarakat yang rentan terikut atau terpengaruh secara sosial tidak harus berjumpa, tetapi bisa melalui internet atau media sosial apalagi ada sosial media yang sulit dilacak atau tidak terdeteksi," ungkapnya.Selain Herry Sudrajat, hadir sebagai narasumber Ichsan Malik dari Institute Titian Perdamaian UI, Solahuddin Hartman Kepala Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik UI, Amit Mathur dari United States Embassy.(BS03)