Beritasumut.com-Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Sumut Zonny Waldi memastikan penyebab kematian ikan di Kerambah Jaring Apung (KJA) Haranggaol karena menurunnya oksigen terlarut dalam air secara drastis. Hal ini dikatakan Zonny usai Rakor pengendalian pencemaran Danau Toba yang digelar di Aula BLH Sumut bersama SKPD merupakan wujud kepanikan Pemprov Sumut, Selasa (10/05/2016). Menurut Zonny normalnya, ikan membutuhkan oksigen di atas 3 ppm (part per million). Saat kejadian, kondisi oksigen 1 ppm. Namun, ikan yang masih hidup layak dan aman untuk dikonsumsi.Salah satu faktornya, kata Zonny, karena penundaan panen ikan. Seharusnya dipanen pada ukuran 500 gram/ekor ditunda hingga ukuran 800-1000 gram/ekor. Hal ini mengakibatkan keperluan oksigen semakin tinggi. Alasan penundaan panen ini dilakukan oleh pembudidaya ikan untuk mendapatkan harga lebih tinggi pada bulan puasa dan lebaran dari Rp 22 ribu per kilogram menjadi Rp 28 ribu per kilogram.Faktor lainnya, padatnya tebar ikan yang tidak sesuai dengan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Seharusnya, untuk KJA ukuran 5x5x5 meter padat tebar ideal adalah 5000 ekor, tetapi dalam praktiknya para pembudidaya ikan dimasukkan 10 ribu-15 ribu ekor ikan. Selain itu, karena tata kelola KJA yang tidak teratur sehingga menghalangi aliran angin dan sirkulasi air dalam KJA. "Kemudian pada awal kematian, ikan-ikan dibiarkan membusuk di dalam KJA sehingga membuat kualitas air makin buruk," ucap Zonny.Di lain pihak, secara eksternal, ketika kejadian cuaca mendung dan sinar matahari tidak berlangsung lama sehingga tidak terjadi fotosintesa tumbuhan air dan plankton untuk memproduksi oksigen. Tidak ada angin, maka tidak ada ombak sehingga tidak ada penambahan oksigen di permukaan air. Kemudian, perairan Haranggaol terletak di antara bukit kapur sehingga pada waktu tertentu pH bisa naik sehingga dapat menyebabkan racun.Zonny mengaku, kesimpulan tersebut berdasarkan hasil investigasi tim yang diturunkan sehari setelah kejadian. Tim I, turun tanggal 3-4 Mei terdiri dari Badan Penelitian dan Pengembangan yakni, Prof Krismono dan staf teknis serta tiga orang dari Tim Kesehatan Ikan dan Lingkungan Diskanla Sumut. Dan Tim 2 tanggal 6-7 Mei terdiri dari UPT BAT Jambi, Badan Karantina Ikan dan Pengendali Mutu (BKIPM dan Diskanla Sumut. Sejauh ini, katanya, pemerintah belum memberikan bantuan kepada para petani KJA yang mengalami kerugian akibat kejadian tersebut. (BS03)