Beritasumut.com-Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) biasanya diwarnai dengan aksi demo oleh buruh menuntut hak–hak normatif buruh oleh perusahaan, tujuannya agar kebijakan pemerintah berpihak kepada buruh. Sehingga May Day selalu diindektikkan dengan aksi demo.Namun apakah aksi demo ini sebagai satu-satunya cara untuk menunjukkan eksistensi keberadaan buruh atau sebagai shock therapy bagi pengusaha agar memperlakukan buruh dengan lebih baik?Joel Pulungan SSos yang merupakan inisiator terbentuknya DPC Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Deli Serdang menerangkan, demonstrasi memang merupakan cara buruh menyampaikan tuntutan-tuntutan dari kaum pekerja, untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik dan jaminan kehidupan yang cukup memadai, menurut sudut pandang buruh.Menurut Joel, komunikasi dapat dilakukan dengan bebarapa cara di antaranya Komunikasi Bottom Up dan Up Bottom yaitu komunikasi antara bawahan dengan atasan dan komunikasi atasan dengan bawahan ini yang harusnya diciptakan."Komunikasi ini seharusnya bisa diciptakan, jika hal ini dapat dijalankan maka harmonisasi antara buruh dengan pengusaha, buruh dengan pemerintah akan tercipta dengan baik. Maka aspirasi buruh akan terakomodir dengan perbaikan–perbaikan di segala lini," jelas Joel, Minggu (1/5/2016).Dijelaskan Joel, DPC Sarbumusi akan menjadi penyambung aspirasi buruh dengan pola mediasi persuasif bukan dengan pola mediasi anarkis."Semoga peringatan May Day tahun ini akan lebih dimanfaatkan oleh pemerintah dan pengusaha untuk memberikan pengarahan kepada kaum pekerja bahwa komunikasi itu penting. Buruh dan pengusaha merupakan dwi tunggal yang tak terpisahkan, tanpa pekerja maka pengusaha tak akan dapat berbuat apa–apa. Begitu juga sebaliknya bila pengusaha hengkang satu–persatu maka para pekerja akan semakin menderita, karena ketiadaan lapangan pekerjaaan. Say may day is holiday," jelas Joel. (BS05)